Buku Individu Hasil Karya Kepala Madrasah

Karya perdana Kepala Madrasah yang merupakan hasil Pelatihan Menulis Buku yang diselenggarakan atas kerjasama Pusat Pengembangan Profesi Guru (P3G) Jawa Timur dan Penerbit Delta Pustaka.

Buku Kolaborasi Hasil Karya Kepala Madrasah

Karya Kepala MI Nurul Jannah NW Ampenan di Musim Pandemi Covid-19 kolaborasi dengan Kepala MIN 2 Kota Mataram.

14 Buku Kolaborasi Hasil Karya Kepala Madrasah

14 Buku ini merupakan Hasil Karya Kepala Madrasah yang melakukan Kolaborasi dengan bapak dan ibu Guru Se-Indonesia.

Kepala Madrasah Menjadi Pemateri dalam Sosialisasi 4 Pilar MPR RI

Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI yang dilaksanakan oleh komunitas belajar atas prakarsa Kepala SMPN 10 Mataram, Kepala Madrasah mendapat tugas untuk menjadi nara sumber salah satu empat pilar tersebut.

Pengolahan Bubur Kertas (MoU dengan POSYANTEK AMPENAN)

Dalam rangka memperluas jaringan dan membekali siswa-siswi dengan skill yang memadai terutama dalama menghadapi perkembangan zaman yang semakin rumit dan sulit, Kepala Madrasah membuat MoU dengan POSYANTEK Ampenan untuk melatih membuat aneka kerajinan dari bubur kertas.

Imtaq Bersama (Setiap Hari Selasa-Kamis)

Untuk mempersiapkan generasi yang kuat iman dan islamnya, maka Kepala Madrasah bersama bapak-ibu guru memprogramkan kegiatan imtaq bersama yang diawali dengan pembacaan shalawat Nahdlatain, asma'ul husna, juz 'amma, latihan pidato, tausiyah, doa, dan diakhiri dengan shalat duha berjamaah.

Latihan Manasik Haji (Program Tahunan)

Sebagai langkah awal untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima, Kepala Madrasah bersama bapak-ibu guru membuat program tahunan, yakni melakukan latihan manasik haji di kantor embarkasi Lombok dengan harapan mudah-mudahan memiliki ilmu yang mumpuni dan segera memiliki nasib ke baitullah al haram.

Upacara Hari Santri (Kegiatan Tahunan Siswa)

Sebagai warga negara yang nasionalis, Kepala Madrasah bersama warga madrasah melakukan upacara bendera setiap hari senin dan hari-hari besar nasional terutama hari santri yang merupakan hari kebanggaan bagi santri pondok pesantren seluruh Indonesia.

Upacara Hari Santri (Kegiatan Tahunan Guru)

Sebagai warga negara yang nasionalis, Kepala Madrasah bersama warga madrasah melakukan upacara bendera setiap hari senin dan hari-hari besar nasional terutama hari santri yang merupakan hari kebanggaan bagi santri pondok pesantren seluruh Indonesia.

Lomba Calistung MI Se-Kota Mataram

Untuk mengasah bakat, minat, dan ilmu pengetahuan yang diperoleh, siswa-siswi unjuk gigi dalam setip event lomba, baik yang diadakan oleh FKKMI, KKM, maupun lembaga/instansi lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2024

ASN Award

 

 

 

 

Jakarta --- ASN Award digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB). Pendaftaran ASN Award dibuka pada 6 November 2023. Ajang ini diikuti oleh ASN terbaik dari Instansi Pemerintah melalui seleksi berjenjang. Untuk ikut dalam ajang ini, Kementerian Agama melakukan seleksi secara ketat melalui Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah pada Oktober 2023 dalam rangka Hari Guru Nasional. Jumlah peserta keseluruhan yang diusulkan Kemenag saat pendaftaran sebanyak 22 orang, terdiri dari 21 guru, sedangkan 1 orang dari kategori Jabatan Administrator Terbaik.

Dari 22 guru madrasah yang menjadi wakil Kemenag, tiga orang meraih prestasi pada dua kategori, yaitu Kategori Guru Inklusi Terbaik dan Kategori Guru Terbaik. Pada kategori Guru Inklusi Terbaik, Kepala MIN 5 Semarang, Jawa Tengah Supriyono, meraih juara I. Sementara Juara II diraih guru MTsN 3 Sukabumi, Jawa Barat, Eri Farihah. Dalam kategori Guru Terbaik, Kementerian Agama mengirimkan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMAN 2 Sekayu, Musi Banyasin, Sumatera Selatan, atas nama Asti Triasih. Dia berhasil meraih juara III pada kategori ini. “Alhamdulillah, tiga guru madrasah yang menjadi wakil Kementerian Agama meraih ASN Award 2023. Ini prestasi sekaligus rekognisi akan kualitas guru madrasah,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Thobib Al Asyhar di Jakarta, Kamis (27/8/2024).

Menurut Thobib, prestasi yang diraih Kementerian Agama pada ASN Award 2023 semakin mengukuhkan peran penting Kemenag dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui fungsi pendidikan, khususnya madrasah yang dikelola Kemenag. Thobib berharap penghargaan ini dapat menjadi pemicu bagi para guru dan tenaga kependidikan di Kemenag untuk terus mengembangkan inovasi yang berdampak positif bagi kemajuan dan peningkatan mutu madrasah. hanapibani.com ASN Award merupakan pemberian penghargaan kepada ASN yang telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran, kedisiplinan dan prestasi kerja luar biasa dalam pelayanan publik dan reformasi birokrasi. Ajang tahunan ini bertujuan untuk memotivasi para ASN agar terus berkinerja optimal dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik serta memberikan pelayanan publik yang prima.

Menteri PANRB, Abdullah Azwar Anas, dalam sambutan pengumuman menyampaikan bahwa penghargaan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh ASN di Indonesia untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Menteri PANRB juga mengapresiasi kontribusi seluruh ASN yang berpartisipasi dalam ajang ini. hanapibani.com "ASN Award ini bukan sekadar penghargaan, tetapi juga bentuk penghormatan atas kerja keras, dedikasi, dan semangat inovasi yang ditunjukkan oleh para ASN. Kami berharap agar para pemenang dan seluruh ASN terus menjaga integritas dan meningkatkan kualitas pelayanan publik," ujarnya. ASN Award 2023 ini menjadi momentum penting dalam upaya membangun birokrasi yang dinamis, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik yang lebih baik. Dengan penghargaan ini, diharapkan lahir semakin banyak inovasi dan peningkatan kinerja yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.




 

Kamis, 19 Januari 2023

BAHASA TUBUH UNTUK MENGOBATI DIRINYA SENDIRI, ANDA HARUS TAHU...

 BAHASA TUBUH UNTUK MENGOBATI DIRINYA SENDIRI, ANDA HARUS TAHU...


Catatan :

Dr. H. Misri Hasanto M.Kes

ANB HEALTH CONSULTAN

Pemerhati : Sosial Kesehatan


Ketika kau merasa lelah, tubuh ini sedang berucap "aku ingin istirahat"... Maka istirahatkanlah... Jangan malah engkau bungkam mereka dengan minuman berenergi.


Ketika mengantuk, tubuh ini sedang berucap "aku ingin tidur"... Maka tidurlah... Jangan terus engkau bungkam ia dengan kopi dan minuman stimulan.


Ketika keringat ini berbau asam, tubuh ini sedang berucap "aku banyak racun yang harus aku keluarkan".... Maka perbaiki pola makanmu dan perbanyaklah minum air putih... Jangan engkau tutupi ia dengan deodorant dan parfum.


Ketika kencing berwarna kuning pekat, kulitmu kering, tubuhmu hangat dan pinggir lidahmu bergelombang. Tubuh ini sedang berucap "aku kekurangan cairan"... Maka segeralah minum air putih. Jangan engkau isi ia dengan minuman dingin penuh dengan gula dan sirup.


Ketika kotoran kita encer atau malah keras dan bentuknya seperti kotoran kambing yang berbau menyengat. Tubuh ini sedang berkata, "aku sedang sangat meradang." Jangan engkau isi dengan makanan penuh pestisida, penyedap rasa, perisa, pengawet dan pewarna buatan. 


Ketika nyeri dada bahkan sampai keringat dingin. Tubuh ini sedang bercerita "pembuluh koronerku sedang macet".... Maka periksalah pola makanmu dan berolahragalah pagi hari dan hirup oksigen pagi sebanyak-banyaknya, agar darahmu bisa kembali lancar... Jangan malah engkau hanya berbaring dan nonton TV sembari menghabiskan nastar, kastengel dan goreng-gorengan.


Ketika lutut ini sakit dan meradang. Tubuh ini sedang berbicara "aku capek menopang tubuhmu yang tambun, aku penuh racun yang engkau isi setiap hari"... Maka kendalikan makanmu, berolahragalah, hingga berat badanmu turun hingga proporsional... Jangan malah engkau bungkam dengan asam mefenamat, natrium diklofenac, meloxicam, voltaren, piroxicam, Allopurinol dan teman-temannya.


Ketika tengkuk ini berat. Sesungguhnya ia sedang berkata, "aku sedang penuh sumbatan"... Cobalah periksa Tekanan Darahmu, Trigliserida, HDL, Asam Uratmu... Besok pagi mulailah lagi ber-olah raga, kegiatan yang sudah engkau tinggalkan berbulan-bulan ini. Dan kendalikan selera makanmu yg salah.


Tubuh ini setiap waktu ingin mengobrol denganmu. supaya mampu menyembuhkan dirinya sendiri, tapi seringnya kita mendengarkan saja tidak, kau lebih memilih memalingkan muka. Dan meninggalkannya sendirian dengan alasan, ada pekerjaan yang belum terselesaikan.


Tubuh ini punya Cara untuk memberi isyarat agar Selalu Sehat, tapi terkadang tidak memahaminya..... 


Semoga Bermanfaat....

Salam Sehat Tanpa Obat.


Penjelasan tsb di atas sebagai Early Warning bagi kita semua.

Apalagi usia kita sudah bukan muda lagi. 


Salam sehat Selalu 🙏🙏

Rabu, 28 Desember 2022

Pokok Agama Islam Adalah Mengagungkan Allah ﷻ

 Pokok Agama Islam Adalah Mengagungkan Allah ﷻ


🪶 Salah satu pondasi dan asas dari agama Islam adalah dibangun di atas mengagungkan Allah ﷻ dan syari’at-Nya. Allah ﷻ berfirman:


وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ


"Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj: 32)


Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata:


أصل الدين مبني على تعظيم الله تعالى وتعظيم دينه العظيم  ورسله الكرام عليهم الصلاة والسلام، والاستهزاء بشيء من ذلك مناف لهذا الأصل ومناقض له أشد المناقضة


"Pokok dari agama adalah mengagungkan Allah, agama dan para Rasul-Nya. Istihza’ dengan hal itu menafikan pokok ini dan sangat bertolak belakang." (Tafsir Taisir Al-Karim Ar-Rahman) lihat: http://iswy.co/e15kr7


🍂 Semua makhluk Allah ﷻ yang ta’at mengagungkan Allah ﷻ, dan semua syari’at adalah untuk mengagungkan-Nya, diantaranya:


▪️ Semua makhluk bertasbih untuk mengagungkan Allah ﷻ, firman-Nya:


تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا


"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Isra’: 44)


▪️ Langit penuh dengan ibadah


Dari Abu Dzar Al-Ghifari, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ أَطَّتْ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا


“Sesungguhnya aku melihat yang tidak kalian lihat, mendengar yang tidak kalian dengar, langit merintih dan laik baginya merintih, tidaklah disana ada tempat untuk empat jari melainkan ada malaikat yang meletakkan dahinya seraya bersujud kepada Allah, andai kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian jarang tertawa dan sering menangis." (HR. Tirmidzi: 2312)


▪️ Nabi Isa menghormati sumpah karena Allah ﷻ sebagai bentuk pengagungan kepada Allah ﷻ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau besabda:


رَأَى عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَجُلًا يَسْرِقُ فَقَالَ لَهُ أَسَرَقْتَ قَالَ كَلَّا وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَقَالَ عِيسَى آمَنْتُ بِاللَّهِ وَكَذَّبْتُ عَيْنِي


“Nabi ‘Isa ‘alaihis salam melihat ada seorang sedang mencuri lalu dia bertanya kepadanya: “Apakah kamu mencuri?”. Orang itu menjawab; “Tidak, demi Allah, yan tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia”. Maka ‘Isa berkata: “Aku beriman kepada Allah dan aku dustakan (penglihatan) mataku.” (HR. Bukhari: 3444, Muslim: 2368)


Rasulullah ﷺ bersabda:


لاَ تَحْلِفُوْا بِآبَائِكُمْ، مَنْ حَلَفَ بِاللهِ فَلْيَصْدُقْ, وَمَنْ حُلِفَ لَهُ بِاللهِ فَلْيَرْضَ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ


“Janganlah kalian bersumpah dengan nama nenek moyang kalian! Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia jujur, dan barangsiapa yang diberi sumpah dengan nama Allah maka hendaklah ia rela (menerimanya), barangsiapa yang tidak rela menerima sumpah tersebut maka lepaslah ia dari Allah.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)


✍🏻 Oleh sebab itu, pemua pembahasan di ilmu tauhid dalah dengan tujuan untuk mengagungkan Allah ﷻ. Menghancurkan kesyirikan karena kesyirikan itu merupakan bentuk penghinaan kepada Allah ﷻ, bertentangan dengan asas agama.



🔰Semoga bermanfaat.

Minggu, 25 Desember 2022

Ibadurrahman Tidak Mengucapkan Selamat Natal

 Ibadurrahman Tidak Mengucapkan Selamat Natal


🪶 Setiap kali akhir bulan Desember, ujian bagi umat Islam terhadap akidah mereka. Dengan dalih sudah menjadi adat kebiasaan, sungkan sama atasan, toleransi beragama, atau termakan ucapan tokoh-tokoh yang membolehkan. Ucapan selamat untuk hari raya umat lain; Merry Christmas, Selamat Natal, memberikan hadiah atau memakai atribut perayaan mereka, dst.


Satu ayat dalam al-Qur’an yang patut kita renungkan dalam hal ini, ketika Allah ﷻ menyebutkan tentang sifat-sifat ‘Ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah yang terbaik. Dimana di antara sifat mereka adalah:


وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا


"Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." (QS. Al-Furqan: 72)


🍂 Disebutkan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab tafsir beliau ketika menerangkan ayat yang mulia ini, beliau berkata:


وَفِي رِوَايَةٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ أَعْيَاد الْمُشْرِكِين


"Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, bahwasanya Az-Zuur adalah perayaan-perayaan orang-orang musyrik." (Tafsir Al-Qurtuby: 15/484)


Dengan demikian berarti makna dari ayat yang mulia ini, bahwasanya salah satu sifat Ibadurrahman adalah mereka tidak menyaksikan perayaan-perayaan orang-orang musyrik. Kalau kita mau merenungkan lagi, jika melihat saja mereka tidak mau maka apalagi mengucapkan selamat, atau ikut serta merayakan dengan memakai atribut-atribut mereka, tentu mereka lebih tidak mau lagi.


✍🏻 Oleh sebab itu, marilah kita kembali kepada Al-Qur’an dan menjadi Ibadurrahman. Renungkanlah ayat yang mulia ini, jangan benturkan dengan pendapat dan ucapan sifulan dan sifulan, karena ucapan Allah ﷻ lebih utama untuk dikedepankan dan dipegang daripada ucapan manusia. Sampaikan kepada atasan atau pihak tempat kita bekerja dengan baik-baik, bahwa kita tidak berkenan bukan karena apa-apa, tapi semata karena ini masalah akidah yang tidak bisa bertoleransi. Jika kemudian kita masih dibilang begini dan begitu, maka tebalkan saja teliga. Sebab tentu ridha Allah ﷻ lebih utama kita cari daripada ridha manusia.



🔰Semoga bermanfaat.

Ya Allah Mudahkanlah Perjalanan Kami

 Ya Allah Mudahkanlah Perjalanan Kami


Safar atau perjalanan jauh adalah kesusahan. Bagaimana tidak, betapa banyak kesedihan yang harus ditahan, kelelahan dan rasa khawatir yang harus dirasakan, makanya Rasulullah ﷺ mengatakan ia bagian dari adzab, beliau bersabda:


السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ


“Perjalanan itu adalah potongan (bagian) dari adzab.” (HR. Bukhari: 1804, Muslim: 1927)


Karenanya, disyariatkan membaca do’a yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, agar Allah ﷻ memberikan perlindungan dan keberkahan. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, ia mengatakan: Apabila Rasulullah ﷺ telah berada di atas kendaraan hendak bepergian, maka terlebih dahulu beliau bertakbir sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membaca do’a sebagai berikut:


سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنْ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ


Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga.” (HR. Muslim: 1342)


Bahkan beliau Rasulullah ﷺ juga memerintahkan agar banyak-banyak berdo’a selama perjalanan karena do’a seorang musafir itu mustajab, beliau bersabda:


ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ


“Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: do’a orang yang terzholimi, do’a seorang musafir, do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad: 7510, Tirmidzi: 1905)


Oleh sebab itu, selama perjalanan isilah dengan do’a kepada Allah ﷻ, mohon perlindungan, minta semuanya dari kebaikan dunia dan akhirat kita. Karena ini adalah waktu mustajabah. Semoga Allah ﷻ memudahkan langkah, memberkahi serta melindungi perjalanan kita.



🔰Semoga bermanfaat.

Manusialah Yang Lebih Tahu Akan Dirinya Sendiri – Kaidah Qur’an 4

 Manusialah Yang Lebih Tahu Akan Dirinya Sendiri – Kaidah Qur’an 4


🪶 Kaidah Qur’an kali ini membahas Manusia Lebih Tahu Akan Dirinya Sendiri


Allah ﷻ berfirman:


بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ


"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya." (QS. Al-Qiyamah: 14-15)


Kaidah ini merupakan salah satu kaidah penting terkait interaksi kita dengan diri dan jiwa. Sekaligus ia merupakan salah satu wasilah untuk mengobati hati dari berbagai penyakitnya.


Yang mengetahui hati dan keadaan diri seorang yang sebenarnya setelah Allah ﷻ adalah orang itu sendiri. Baik dan buruknya batinnya, dialah yang mengetahuinya dengan pasti, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa melihat secara lahiriyah saja. Karena itulah perbaikan diri mesti dilakukan oleh diri sendiri karena dialah yang lebih tahu keadaan dirinya.


✍🏻 Kaidah ini berlaku untuk banyak keadaan, diantaranya:


▪️ Untuk mengetahui kadar (kapasitas) diri


Seringkali, yang membuat runyam hubungan mu’amalah kita dalam kehidupan bersosial adalah karena kita tidak tahu kadar diri kita sendiri. Sehingga, apa yang seharusnya kita lakukan, tidak kita lakukan. Sebaliknya, sesuatu yang di luar kapasitas diri kita, justru itu yang kita lakukan. Seorang Imam dari generasi Tabi’in yaitu Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah mengatakan:


رَأْسُ الْأَدَبِ عِنْدَنَا أَنْ يَعْرِفَ الرَّجُلُ قَدْرَهُ


“Inti dari adab menurut kami adalah seorang tahu akan kadar dirinya sendiri.” (Hidayat al-Auliya’: 10/168)


Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga pernah mengatakan:


رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً عَرَفَ قَدْرَ نَفْسِهِ


“Allah merahmati seorang yang tahu akan kadar dirinya.” (Hilyah Auliya’ 5/306, Tafsir Al-Qurthubi, 12/ 302, QS. An-Nahl: 14)


Oleh sebab itu, milikilah sifat ini yaitu tahu kapasitas diri sendiri dan kitalah yang lebih tahu akan hal itu. Karena Allah ﷻ berfirman:


بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ


"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri." (QS. Al-Qiyamah: 14-15)


Tengok pada diri kita lalu pahami kita ini ada dimana. Ibarat sebatang pohon, jika kita adalah dahan maka janganlah menjadi batang atau akar. Jika kita adalah daun maka janganlah menjadi bunga atau buah. Dengan begitu kehidupan kita akan menjadi baik dan damai. Ketika seorang melampaui batas dirinya padahal dia tahu kadar dirinya sendiri kemudian dia beralasan dengan alasan-alasan yang seolah-olah menunjukkan ia mampu padahal ia tidak mampu maka ia akan jatuh dalam kebinasaan.


Imran bin Hiththan dahulunya adalah seorang Ahlussunnah, ia merupakan salah seorang Tabi’in senior, namun pada akhirnya ia menjadi seorang Khawarij. Kisahnya ia mempunyai seorang sepupu yang berpemahaman Khawarij yang bernama Hamnah. Karena kecantikannya, Imran jatuh cinta dan hendak menikahinya. Ketika ditegur dan diingatkan oleh sebagian kawannya, Imran menjawab:


سَأَرُدُّهَا


"Aku akan mengembalikannya." (Siyar A’lam An-Nubala’: 4/214, Cet. Muassasah Ar-Risalah)


Maksudnya adalah ia ingin menikahi sepupunya itu untuk mengentaskannya dari pemahaman Khawarij dan mengembalikannya ke Ahlussunnah. Namun yang terjadi malah sebaliknya, malahan Imranlah yang diubah oleh wanita itu menjadi Khawarij tulen.


▪️ Menolak ambisi senang dipuji


Ambisi terhadap pujian adalah pintu kehancuran. Dari Abu Bakrah radhiyallahu anhu, bahwa seorang laki-laki disebut-sebut disamping Nabi ﷺ, lalu laki-laki lain memuji kebaikan laki-laki tersebut, maka Nabi ﷺ bersabda:


وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ


“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher saudaramu." (HR. Bukhari: 6061, Muslim: 3000)


Karena pujian akan mengantarkan seorang ujub pada dirinya, merasa bahwa dirinya dipenuhi dengan kebaikan sehingga ia pun terbuai dan akhirnya bisana. Untuk menolak hal ini maka ingatlah kaidah Qur’an bahwa manusialah yang mengetahui keadaan yang sebenarnya dari dirinya sendiri.


Dahulu para Sahabat Nabi ketika mereka dipuji mereka justru minta ampun kepada Allah ﷻ. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad dari Adi bin Arthah, dia bercerita;


كان الرجل من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا زُكِّي، قال :اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ


“Dulu ada seorang sahabat Nabi. ketika dia dipuji, dia mengucapkan, “Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang mereka ucapkan, ampunilah aku, atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik dari pada penilaian yang mereka berikan untukku.” (Shahih Al-Adab-Al-Mufrad: 585)


Bahkan sebagian ulama menyebutkan sebuah atsar – meski dengan sanad yang lemah – bahwa do’a ini diucapkan oleh Abu Bakar ketika ia dipuji. Dari Al-Ashma’i ia berkata:


كَانَ أَبُو بَكْرٍ إِذَا مُدِحَ قَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ بِي مِنْ نَفْسِي، وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِي مِنْهُمْ، اللَّهمّ اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لا يَعْلَمُونَ، وَلا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ.


"Dahulu Abu Bakar ketika dipuji mengucapkan: Ya Allah, Engkaulah yang lebih tahu keadaan diriku dari padaku. Dan aku lebih tahu keadaan diriku dari mereka. Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira. Ampunilah aku atas kekuranganku yang tidak mereka ketahui dan janganlah engkau menghukumku karena apa yang mereka katakan." (Asad Al-Ghabah li Ibni Atsir: 3/221)


Jika kita perhatikan, do’a ini berangkat dari pemahaman mereka akan kaidah Qur’an ini.


▪️ Tidak marah ketika dihina dan dicaci-maki


Jangan marah, tapi jadikanlah muhasabah, jika ada orang yang mengata-ngatai, bilang begitu dan begini, membeberkan aib dan membesar-besarkan kesalahan kita. Karena mungkin Allah ﷻ ingin ingatkan kita melalui lisan mereka.


Akui sajalah bahwa kita memang punya banyak salah, tidak perlu membela diri. Kita lebih tahu diri kita sendiri daripada orang lain. Apa yang mereka katakan tidak ada apa-apanya, itu hanya sedikit dari total aib diri kita. Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda:


كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ


“Setiap anak Adam berdosa dan sebaik-baik mereka yang berdosa adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi: 2499)


Muhammad bin Wasi’ rahimahullah pernah mengatakan:


لَوْ كَانَ لِلذُّنُوب رِيْحٌ ، مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إلَيّ


“Kalau seandainya dosa-dosa itu memiliki aroma, niscaya tidak akan ada seorangpun yang sanggup duduk bersamaku.” (Ighatsatul Lahafan: 169)


Karena banyak dosa inilah kita diperintahkan untuk banyak-banyak meminta ampun setiap hari. Rasulullah ﷺ bersabda:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ


“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam satu hari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim: 2702)


Sehingga jika ada orang yang mencela, dan memaki, serta mengumbar aib kita maka tidak perlu terlalu diambil hati, karena bisa jadi itu adalah salah satu cara Allah ﷻ mengingatkan diri kita supaya kita senantiasa sadar dan kemudian bertaubat kepada-Nya.


Ketika Ali bin Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib atau yang lebih dikenal dengan Zainal Abidin rahimahullah dicela dan dicaci-maki oleh seseorang, ia sama sekali tidak marah, bahkan ia justru mengatakan:


لَقَد سَبَبْتَنَا بِمَا عَلِمْتَ ، وَمَا سُتِرَ عَنْك مِنْ أَمْرِنَا أَكْبَرُ


“Sungguh kamu telah mencelaku dengan apa yang kamu tahu, padahal apa yang tersembunyi olehmu dari perkaraku jauh lebih banyak.” (Suwar min Hayatit Tabi’in: 345)


Kemudian ia memerintahkan agar laki-laki yang mencela dirinya tersebut agar diberi hadiah berupa uang sebanyak seribu dirham.


Makanya Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, merasa berhutang budi kepada orang-orang yang mengingatkannya tentang aibnya. Ketika beliau menjadi Amirul Mukminin beliau pernah mengatakan:


رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيْنَا عُيُوْبَنَا


“Semoga Allah merahmati seorang yang telah menunjukkan aib-aib kami pada kami.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin: 196)


Hal ini pun menjadi sebuah hal yang diwarisi pada orang-orang shalih terdahulu, mereka sangat senang jika ada orang yang mengingatkan aib mereka. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:


وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يُحِبُّوْنَ مَنْ يُنَبِّهُهُمْ عَلَى عُيُوْبِهِمْ


“Dahulu para salaf merasa senang jika ada seseorang yang mengingatkan kepada mereka tentang aib-aib mereka.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin: 196)


Oleh sebab itu, tidak perlu kita bersedih jika ada yang bilang kita begini dan begitu, aib kita ini dan itu, dst. Katakan saja seperti apa yang dikatakan oleh Zainal Abidin; apa yang tidak mereka ketahui jauh lebih banyak. Berterima kasihlah kepada mereka, karena telah mengingatkan, jadikan itu sebagai muhasabah, tinggal sekarang mari kita perbaiki diri kita.


▪️ Menilai manusia secara lahir saja


🔰Semoga bermanfaat.

Siapa Diantara Kita Yang Tidak Memiliki Aib?

 Siapa Diantara Kita Yang Tidak Memiliki Aib?


🪶 Jika kita hanya ingin berteman dengan yang tidak memiliki aib dan kesalahan maka kita hanya bisa berteman dengan malaikat, siapa diantara kita yang tidak memiliki aib? Siapapun dia pasti memiliki aib dan kesalahan. Rasulullah ﷺ bersabda:


كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ


“Semua anak cucu Adam banyak salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi: 2499)


🍂 Makanya Raja’ bin Al-Haiwah rahimahullah seorang ulama zaman tabi’in berpesan melalui nasehatnya:


مَنْ لَمْ يُؤَاخ إِلًّا مَنْ لَا عَيْبَ فِيْهِ قَلَّ صَدِيْقُهُ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ مِنْ صَدِيْقِهِ إِلَّا بِالْإِخْلَاصِ لَهُ،  دَامَ سَخَطُهُ، و من عَاتَبَ إِخْوَانَهُ عَلَى كُلِّ ذَنبٍ كَثُرَ عَدُؤُهُ


“Barang siapa yang tidak mau bersaudara kecuali dengan orang yang tidak ada kekurangannya, pastilah sedikit temannya. Dan barang siapa yang tidak ridha terhadap temannya kecuali dengan keikhlasan kepadanya, dia akan selalu merasa marah. Dan barang siapa yang banyak mencela saudaranya atas setiap kesalahan, maka banyak musuhnya.” (Munajjid al-khatib: 2/18)


✍️ Oleh sebab itu, jika bebas dari aib, cela dan kesalahan adalah tolak ukur dari persaudaraan dan pertemanan maka kita tidak akan pernah bisa mengikat persaudaraan dan pertemanan yang kuat yang dibangun di atas kecintaan kepada Allah ﷻ untuk selamanya, karena tidak ada manusia yang akan sesuai dengan kriteria kita tersebut.



🔰Semoga bermanfaat.

LISAN SANGAT BERBAHAYA DAN MEMBINASAKAN

 LISAN SANGAT BERBAHAYA DAN MEMBINASAKAN


🪶 Lisan itu memang sangat berbahaya dan membinasakan. Dan terkadang bahayanya itu tidak dirasa oleh pemiliknya. Karenanya Rasulullah ﷺ bersabda:


وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ


“Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kata yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kata itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari: 6478)


🍂 Inilah yang dipahami betul oleh manusia mulia setelah Rasulullah ﷺ yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, sehingga membawa beliau mengucapkan sebuah ucapan terkenal sebagaimana yang diceritakan oleh Zaid bin Aslam:


رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ الصَّدِيْقِ رَحِمَهُ اللّٰهُ آخَذَ بِطَرْفِ لِسَانِهُ، فَقَالَ : هَذَا أَوْرَدَنِيْ المَوَارِدَ


"Aku melihat Abu Bakar As-Shiddiq rahimahullah memegang ujung lisannya, kemudian mengatakan: Inilah yang mengantarkanku pada kebinasaan." (Kitabuz Zuhd Abu Dawud as-Sijistani: 55)


💦 Bergurau melampaui batas dan tidak menjaga lisan benar-benar membinasakan, Allah ﷻ berfirman:


وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ، لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ


"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." (QS. At Taubah: 65-66)


Berkaitan dengan sebab turun ayat yang mulia ini, diriwayatkan dari Ibnu Umar:  

“Bahwasanya ketika dalam peperangan tabuk, ada seseorang yang berkata: “Belum pernah kami melihat seperti para ahli membaca Alqur’an (qurra’) ini, orang yang lebih buncit perutnya, dan lebih dusta mulutnya, dan lebih pengecut dalam peperangan”, maksudnya adalah Rasulullah dan para sahabat yang ahli membaca Al Qur’an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “Kau pendusta, kau munafik, aku beritahukan hal ini kepada Rasulullah”, lalu berangkatlah Auf bin Malik kepada Rasulullah untuk memberitahukan hal ini kepada beliau, akan tetapi sebelum ia sampai , telah turun wahyu kepada beliau.


Dan ketika orang itu datang kepada Rasulullah, beliau sudah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya,  maka berkatalah ia kepada Rasulullah ﷺ: “ya Rasulullah, sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang yang mengadakan perjalanan untuk menghilangkan penatnya perjalanan”, kata Ibnu Umar: “Sepertinya aku melihat orang tadi berpegangan sabuk pelana unta Rasulullah, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata : “kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”, kemudian Rasulullah ﷺ bersabda  kepadanya:


أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ


“Apakah dengan Allah, ayat-ayat -Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok.”

Rasulullah mengatakan seperti itu tanpa menoleh, dan tidak bersabda kepadanya lebih dari pada itu. (HR. Ibnu Jarir: 10/119)


✍🏻 Lihat bagaimana olokan, senda gurau telah membuat mereka keluar dari agama. Persis sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Oleh sebab itu, berhati-hati dengan lisan. Jaga betul-betul dia dari segala bentuk keburukan. Jangan sampai mengucapkan sesuatu yang menyakiti manusia atau menyakiti Allah ﷻ. Memang dia tidak bertulang tapi dia lebih tajam dan berbahaya dari pedang. Memang dia pendek namun dia bisa menjangkau seluruh penjuru dunia.



🔰Semoga bermanfaat.

SYIRIK LAGI, SYIRIK LAGI

 SYIRIK LAGI, SYIRIK LAGI


🪶 Kadang kita jadi senyum-senyum sendiri ketika mendengar komentar sebagian orang zaman sekarang tentang syirik. Entah apa sebabnya, seolah ucapannya itu keluar dari hasil penelitian panjang. Padahal, jauh sekali.


Sering kita mendengar ucapan, “Sekarang zaman telah berubah, bukan zaman unta lagi. Tidak tepat kita masih terus-menerus bicara tentang syirik. Manusia di zaman ini sudah sangat tinggi tingkat intelektualnya.” atau 


“Syirik, syirik melulu, sekarang saatnya bicara politik. Bagaimana memperbaiki birokrasi kita yang kian hari kian memburuk.” Atau


“Syirik, syirik terus. Ngak sadar banyak kekayaan alam kita sekarang dikuasai orang asing. Itu lihat Freeport, New Mount, Exson, dst.” Atau yang semisalnya.


🍂 Sekarang mari kita bicarakan sedikit. Siapa yang tidak kenal dengan Nabi Ibrahim. Apakah ada di antara kita yang masih sangsi terhadap kuatnya tauhid beliau?


Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai “Abul Anbiya’ (bapak para nabi)” dan  penghulunya orang-orang bertauhid, masih saja khawatir terhadap kesyirikan sampai-sampai beliau berdo’a, sebagaimana yang dihikayatkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:


وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ


"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)


💦 Ibrahim At-Taimi mengatakan:


وَ مَنْ يَأْمَنُ البَلاَء بَعْدَ إِبْرَاهِيْمَ


“Siapa yang aman dari bala kesyirikan setelah Nabi Ibrahim?” (Fathul Majid hal. 101)


Artinya, jika Nabi Ibrahim saja sebagai ayah para nabi dan penghulunya orang-orang bertauhid merasa tidak aman dari kesyirikan, sampai beliau berdo’a kepada Allah ﷻ agar dijauhkan darinya, maka selain Nabi Ibrahim lebih layak dan lebih patut untuk takut serta khawatir terhadap kesyirikan.


Kenapa? Karena kesyirikan itu bermacam-macam. Anda mungkin mampu menghindar dari kesyirikan yang jaliy (tampak jelas), tapi bagaimana dengan syirik yang samar-samar? Padahal, ada di antara syirik itu yang lebih samar dari pada suara langkah kaki semut.


📚 Rasulullah ﷺ pernah bersabda:


” أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ”


“Wahai sekalian manusia, takutlah kalian dari kesyirikan ini, sebab ia lebih samar dari derap langkah kaki semut.” (HR. Ahmad 19606 dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Targhib: 36)


Pertanyaannya, siapa gerangan yang mampu mendengar derap langkah kaki semut? Tidak ada manusia yang bisa. Apalagi manusia zaman sekarang, “Boro-boro mendengar suara langkah kaki semut, kadang suara adzan yang pakai speker saja banyak yang tak dengar, itu buktinya masjid banyak yang kosong.”


✍🏻 Oleh sebab itu, kita tidak akan berhenti bicara dan belajar tentang syirik. Kita tidak memungkiri bahwa membicarakan politik, ekonomi, dst itu adalah hal yang perlu. Tetapi, bicara tentang syirik jangan ditinggalkan, justru lebih perlu untuk dibicarakan. Harus jadi prioritas. Semoga bermanfaat.



🔰Semoga bermanfaat.

Tiga Pelajaran Dari Peristiwa Nabi ﷺ Disihir

 Tiga Pelajaran Dari Peristiwa Nabi ﷺ Disihir


📚 Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia menuturkan


سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا ثُمَّ قَالَ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا فِيهِ شِفَائِي أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَ فِيمَا ذَا قَالَ فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِينَ رَجَعَ نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ فَقُلْتُ اسْتَخْرَجْتَهُ فَقَالَ لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللَّهُ وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا ثُمَّ دُفِنَتْ الْبِئْرُ


"Nabi ﷺ telah disihir hingga terbayang oleh beliau seolah-olah berbuat sesuatu padahal tidak. Hingga pada suatu hari Beliau memanggil-manggil kemudian berkata: “Apakah kamu menyadari bahwa Allah telah memutuskan tentang kesembuhanku?. Telah datang kepadaku dua orang, satu diantaranya duduk dekat kepalaku dan yang satu lagi duduk di dekat kakiku. Yang satu bertanya kepada yang lainnya; “Sakit apa orang ini?”. Yang lain menjawab; “Kena sihir”. Yang satu bertanya lagi; “Siapa yang menyihirnya?”. Yang lain menjawab; “Labid bin Al A’sham”. Yang satu bertanya lagi; “Dengan cara apa?”. DIjawab; “Dengan cara melalui sisir, rambut yang rontok saat disisir dan putik kembang kurma jantan”. Yang satu bertanya lagi; “Sekarang sihir itu diletakkan dimana?”. Yang lain menjawab; “Di sumur Dzarwan”. Maka Nabi ﷺ pergi mendatangi tempat tersebut kemudian kembali dan berkata kepada ‘Aisyah setelah kembali; “Putik kurmanya bagaikan kepala-kepala setan”. Aku bertanya; “Apakah telah baginda keluarkan?”. Beliau berkata: “Tidak, karena Allah telah menyembuhkan aku. Namun aku khawatir bekasnya itu dapat mempengaruhi manusia maka sumur itu aku timbun.” (HR. Bukhari: 3268)


🍂 Faidah dari hadits:


▪️Sihir itu ada dan benar memberikan pengaruh. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bisa terkena sihir, maka selain beliau lebih memungkinkan lagi untuk terkena sihir.


▪️Rasulullah ﷺ manusia biasa, tidak dapat menolak mudharat dari dirinya. Sehingga tidak boleh untuk diibadahi. Yang dapat memberikan manfaat dan menolak mudharat hanyalah Allah ﷻ. Karenanya Allah ﷻ berfirman:


قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ


"Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak (pula) kuasa menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-A’raf: 188)


▪️Terkena sihirnya Rasulullah ﷺ bukanlah sebuah aib, justru sebuah rahmat dari Allah ﷻ, supaya umatnya dapat benar-benar mewujudkan ittiba kepadanya dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya ketika terkena sihir.


✍🏻 Jadi jika kita terkena sihir maka tidak perlu sedih karena Nabi kita saja ternyata pernah terkena sihir. Dan tidak perlu pergi ke dukun untuk menghilangkan sihir, cukup teladani Nabi kita saja beliau ketika terkena sihir diobati dengan ruqyah. Wallahu a’lam



🔰Semoga bermanfaat.

Minggu, 11 Desember 2022

HAFAL ASMAUL HUSNA MASUK SURGA?

 HAFAL ASMAUL HUSNA MASUK SURGA?


🪶 Banyak orang yang beranggapan bahwa cukup dengan menghafalkan Asmaul Husna maka akan masuk surga. Makanya ada yang dijadikan lagu agar mudah dilafalkan, katanya. Padahal makna ihsha’ yang disebutkan dalam hadits ternyata tidak hanya sekedar menghafalkan saja.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda:


إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ


“Allah ‘azza wajalla mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barangsiapa meng-ihsha’ (menjaganya) maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari: 2736, Muslim: 2677)


🍂 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: Makna ihsha’ (menjaga) sembilan puluh sembilan nama ini yang konsekuensinya dapat memasukkan ke surga bukanlah hanya dengan engkau menuliskannya di kertas kemudian engkau ulang-ulang hingga hafal, akan tetapi maknanya adalah:


▪️Pertama: menghafal lafazhnya


▪️Kedua: memahami maknanya


▪️Ketiga: beribadah kepada Allah ﷻ dengan konsekuensinya, dan hal itu dari dua sisi yaitu:


- Berdo’a kepada Allah ﷻ dengannya, berdasarkan firman-Nya:


وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ


"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya." (QS. Al-A’raf: 180)


- Bersedia melakukan apa-apa yang menjadi konsekuensi dari nama-nama ini. Misalnya Ar-Rahim yang konsekuensinya adalah rahmat maka lakukanlah amal shalih supaya dapat mendatangkan rahmat Allah. Konsekuensi dari Al-Ghafur adalah ampunan, jadi lakukanlah apa-apa yang menjadi sebab untuk pengampunan terhadap dosa-dosamu. Inilah makna ihsha’. (Al-Qaulul Mufid: 2/258-259)


✍🏻 Oleh sebab itu, Asmaul Husna tidak hanya untuk dihafal saja, apalagi sampai dilagukan serta diiringi musik, bertambah lagi kesalahannya. Asmaul husna itu hendaknya dihafal kemudian dipahami serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah makna ihsha’ yang bisa menjadi sebab kita masuk surga.



🔰Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir Al Minangkabawi

👥Daftar group WA Maribaraja.com, klik: wa.me/6283892330242

📢Gabungkan no admin kami; 083892330563 ke grup Anda, untuk mendapatkan support artikel dakwah setiap hari

♻Silahkan dishare, follow;

Telegram: http://bit.ly/2TEqyHj

Fanspage: http://bit.ly/2NVdxeH

Instagram: http://bit.ly/2S38siB

Sesuatu Yang Dibenci Belum Tentu Buruk dan Yang Dicintai Belum Tentu Baik – Kaidah Qur’an 2

 Sesuatu Yang Dibenci Belum Tentu Buruk dan Yang Dicintai Belum Tentu Baik – Kaidah Qur’an 2



📚 Kaidah Qur’an kali ini membahas sesuatu yang dibenci belum tentu buruk dan yang dicintai belum tentu baik


Allah ﷻ berfirman:


وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)


Pengetahuan manusia terbatas, seperti terbatasnya panca indra mereka. Sesuatu yang dipandang baik oleh manusia belum tentu hakikatnya baik. Sebaliknya yang dibenci belum tentu hakikatnya buruk. Karena itulah, saat seorang mukmin berencana melakukan sesuatu maka disyariatkan baginya untuk melakukan shalat istikharah dan berdoa kepada Allah ﷻ.


Ibadah ini bertujuan agar bersandar kepada ilmu Allah ﷻ untuk mendapatkan pilihan yang terbaik. Karena Allah ﷻ Maha Mengetahui mana yang terbaik buat hamba-Nya. Dari Jabir radhiallahu’anhu dia berkata:


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَالسُّورَةِ مِنْ الْقُرْآنِ إِذَا هَمَّ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ


"Nabi ﷺ pernah mengajarkan istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Qur’an. (Sabdanya): “Jika salah seorang dari kalian menginginkan sesuatu maka hendaknya ia mengerjakan shalat dua rakaat lalu ia mengucapkan: Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang besar, karena Engkaulah yang mampu sedangkan aku tidak mampu, Engkaulah yang Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha Mengetahui dengan segala yang ghaib. Ya Allah jikalau Engkau mengetahui urusanku ini (ia sebutkan hajatnya) adalah baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku -atau berkata, baik di dunia atau di akhirat- maka takdirkanlah untukku serta mudahkanlah bagiku dan berilah berkah kepadaku, sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini (ia menyebutkan hajatnya) buruk untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, -atau berkata, baik di dunia atau pun di akhirat- maka jauhkanlah aku daripadanya, serta takdirkanlah untukku yang baik baik saja, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya.) ” Lalu ia menyebutkan hajatnya." (HR. Bukhari: 6382)


🪶 Sebaliknya, ada banyak hal yang terkadang kita benci, padahal justru disitulah terdapat kebaikan yang sangat banyak. Allah ﷻ berfirman:


فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا


"Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa’: 19)


Oleh karena itulah, ketika kita tertimpa sesuatu yang tidak kita sukai setelah kita berusaha dengan baik dan berdo’a maka tugas kita adalah meyakini semua adalah takdir Allah ﷻ yang pasti mengandung hikmah untuk kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:


احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah: “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.” (HR. Muslim: 2664)


🍂 Allah ﷻ Maha Tahu mana yang terbaik buat hamba-Nya. Semua yang ditakdirkan Allah ﷻ untuk hamba-Nya yang beriman pasti baik, sekalipun bisa jadi hal itu tidak disukai oleh hamba tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:


عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ إِنَّ الله لَمْ يَقْضِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ


“Aku kagum terhadap orang yang beriman, tidaklah Allah menentukan takdir kecuali itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Ahmad: 11716, dishahihkan Al-Arnauth)


Ada yang bilang, kehidupan itu seperti kapal yang tengah berlayar, angin terkadang berhembus ke arah yang tidak diinginkan oleh nelayan. Maka sebagai seorang muslim ingatlah kaidah Al-Qur’an ini: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)


▪️ Contoh Praktek:


- Jihad fii sabilillah


- Kisah Nabi Musa yang dihanyutkan ke sungai Nil QS. Al-Qashash: 1-13


- Perjanjian Hudaibiyah


- Kisah Raja dan penasehat



🔰Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir Al Minangkabawi

👥Daftar group WA Maribaraja.com, klik: wa.me/6283892330242

📢Gabungkan no admin kami; 083892330563 ke grup Anda, untuk mendapatkan support artikel dakwah setiap hari

♻Silahkan dishare, follow;

Telegram: http://bit.ly/2TEqyHj

Fanspage: http://bit.ly/2NVdxeH

Instagram: http://bit.ly/2S38siB

Pakaian Nabi Musa Dilarikan Sebuah Batu

 Pakaian Nabi Musa Dilarikan Sebuah Batu


🪶 Kisah pakaian Nabi Musa dilarikan sebuah batu terdapat dalam hadits yang shahih. Rasulullah ﷺ pernah bercerita tentang sebongkah batu yang dahulu membawa lari pakaian Nabi Musa. Dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda:


كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ وَكَانَ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ فَخَرَجَ مُوسَى فِي إِثْرِهِ يَقُولُ ثَوْبِي يَا حَجَرُ حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى مُوسَى فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ وَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَنَدَبٌ بِالْحَجَرِ سِتَّةٌ أَوْ سَبْعَةٌ ضَرْبًا بِالْحَجَرِ


“Dahulu Bani Israil mandi dengan telanjang, hingga sebagian melihat sebagian yang lainnya. Sedangkan Nabi Musa ‘alaihissalam lebih suka mandi sendirian. Maka mereka pun berkata, “Demi Allah, tidak ada menghalangi Musa untuk mandi bersama kita kecuali karena ia adalah seorang laki-laki yang kemaluannya kena hernia. Lalu pada suatu saat Nabi Musa pergi mandi dan meletakkan pakaiannya pada sebuah batu, lalu batu tersebut lari dengan membawa pakaiannya. Maka Musa lari mengejar batu tersebut sambil berkata ‘Wahai batu, kembalikan pakaianku!’ sehingga orang-orang Bani Israil melihat Musa. Mereka lalu berkata, ‘Demi Allah, pada diri Musa tidak ada yang ganjil.’ Musa kemudian mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut dengan satu pukulan.” Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, sungguh pada batu tersebut terdapat bekas pukulan enam atau tujuh akibat pukulannya.” (HR. Bukhari: 278, Muslim: 339)


🍂 Dalam redaksi lain, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ مُوسَى كَانَ رَجُلًا حَيِيًّا سِتِّيرًا لَا يُرَى مِنْ جِلْدِهِ شَيْءٌ اسْتِحْيَاءً مِنْهُ فَآذَاهُ مَنْ آذَاهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَقَالُوا مَا يَسْتَتِرُ هَذَا التَّسَتُّرَ إِلَّا مِنْ عَيْبٍ بِجِلْدِهِ إِمَّا بَرَصٌ وَazإِمَّا أُدْرَةٌ وَإِمَّا آفَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ أَرَادَ أَنْ يُبَرِّئَهُ مِمَّا قَالُوا لِمُوسَى فَخَلَا يَوْمًا وَحْدَهُ فَوَضَعَ ثِيَابَهُ عَلَى الْحَجَرِ ثُمَّ اغْتَسَلَ فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ إِلَى ثِيَابِهِ لِيَأْخُذَهَا وَإِنَّ الْحَجَرَ عَدَا بِثَوْبِهِ فَأَخَذَ مُوسَى عَصَاهُ وَطَلَبَ الْحَجَرَ فَجَعَلَ يَقُولُ ثَوْبِي حَجَرُ ثَوْبِي حَجَرُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَرَأَوْهُ عُرْيَانًا أَحْسَنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ وَأَبْرَأَهُ مِمَّا يَقُولُونَ وَقَامَ الْحَجَرُ فَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَلَبِسَهُ وَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا بِعَصَاهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ بِالْحَجَرِ لَنَدَبًا مِنْ أَثَرِ ضَرْبِهِ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا أَوْ خَمْسًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا }


"“Sesungguhnya Nabi Musa ‘alaihissalam adalah seorang pemuda yang sangat pemalu dan senantiasa badannya tertutup sehingga tidak ada satu pun dari bagian badannya yang terbuka karena sangat pemalunya. Lalu seorang dari Bani Israil mengolok-oloknya. Dia berkata, “Sesungguhnya tidaklah dia ini menutupi tubuhnya melainkan karena ada cacat pada kulitnya, bisa jadi kusta, hernia atau penyakit-penyakit lainnya.” Lau Allah ingin membebaskan Nabi Musa dari apa yang mereka katakan terhadapnya, sehingga pada suatu hari dia mandi sendirian dan meletakkan pakaiannya di atas batu. Maka mandilah dia dan ketika telah selesai dia beranjak untuk mengambil pakaiannya namun batu itu telah melarikan pakaiannya. Maka Musa mengambil tongkatnya dan mengejar batu tersebut sambil memanggil-manggil, “Pakaianku, wahai batu. Pakaianku, wahai batu.” Hingga akhirnya dia sampai ke tempat kerumunan Bani Israil dan mereka melihat Musa dalam keadaan telanjang yang merupakan sebaik-baiknya ciptaan Allah. Dengan kejadian itu Allah membebaskan Musa dari apa yang mereka katakan selama ini. Akhirnya batu itu berhenti lalu Musa mengambil pakaiannya dan memakainya. Kemudian Musa memukul batu tersebut dengan tongkatnya. Sungguh demi Allah, batu tersebut masih tampak bekas pukulan Musa, tiga, empat atau lima pukulan. Untuk kejadian itulah Firman Allah Ta’ala: (“Wahai orang-orang beriman janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mengolok-olok (menyakiti) Musa lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan”) (QS. Al-Ahzab ayat 69)." (HR. Bukhari: 3404)


✍🏻 Pelajaran dari kisah:


▪️Malu adalah sifat terpuji


▪️Pentingnya menjaga muruah (marwah)


▪️Tidak ada manusia yang selamat dari celaan orang-orang bodoh


▪️Sesuatu yang dibenci bisa jadi mengandung kebaikan yang banyak



🔰Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir Al Minangkabawi

👥Daftar group WA Maribaraja.com, klik: wa.me/6283892330242

📢Gabungkan no admin kami; 083892330563 ke grup Anda, untuk mendapatkan support artikel dakwah setiap hari

♻Silahkan dishare, follow;

Telegram: http://bit.ly/2TEqyHj

Fanspage: http://bit.ly/2NVdxeH

Instagram: http://bit.ly/2S38siB

Jangan Melupakan Kebaikan Orang Lain- Kaidah Qur’an 3

 Jangan Melupakan Kebaikan Orang Lain- Kaidah Qur’an 3


🪶 Kaidah Qur’an kali ini membahas jangan melupakan kebaikan orang lain


Allah ﷻ berfirman:


وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ


"Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu." (QS. Al-Baqarah: 237)


Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadikan semua hidup kita; perbuatan, ucapan, dan bahkan setiap hembusan nafas sebagai ibadah kepada Allah ﷻ. Termasuk diantaranya ketika kita memberi dan diberi kebaikan. Ketika kita berada pada posisi pemberi kebaikan kepada orang lain maka kita diperintahkan untuk memberi dengan ikhlas tanpa pamrih. Tidak mengharapkan balasan atas kebaikan yang telah dilakukan itu, bahkan tidak mengharapkan ucapan terima kasih. Sebagaimana firman Allah ﷻ ketika mengisahkan tentang sifat Al-Abrar yaitu orang-orang yang beruntung penghuni surga:


 وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا


"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (QS. Al-Insan: 8-9)


🍂 Hal ini, untuk menjadikan kita betul-betul hidup untuk Allah ﷻ. Semua kebaikan; pemberian, sedekah, hadiah, dst kepada orang lain semata-mata untuk Allah ﷻ bukan untuk manusia, kita mengharap balasan Allah ﷻ bukan balasan manusia sehingga dengan inilah kita mewujudkan hakikat Tauhid dan kita tidak akan pernah kecewa dengan apa yang terjadi setelah itu, meski orang yang kita berikan kebaikan itu membalas air susu dengan air tuba.


Ketika kita berada pada posisi diberi, kita menerima kebaikan dari orang lain, maka Islam mengajarkan kepada kita untuk tidak melupakan kebaikan tersebut, sekecil apapun kebaikan tersebut. Inilah kaidah Al-Qur’an; Jangan lupakan kebaikan. Allah ﷻ berfirman:


وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ


"Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu." (QS. Al-Baqarah: 237)


🌾 Karenanya Allah ﷻ sangat murka kepada orang-orang yang mudah melupakan kebaikan. Seperti para istri yang buruk yang dengan mudahnya melupakan banyak kebaikan suaminya hanya lantaran satu kesalahan yang diperbuat suaminya. Rasulullah ﷺ bersabda:


أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أكْثَرُ أهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قيلَ: أيَكْفُرْنَ باللهِ ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ


“Aku pernah diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah para wanita, karena mereka sering berbuat kufur.” Beliau ditanya: “Apakah mereka berbuat kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengingkari pemberian dan kebaikan (suami). Bilamana engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, sementara ia hanya melihat satu kesalahan saja darimu, ia akan mengatakan: “Aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”. (HR. Bukhari: 29)


Kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat tersebut. Berterima kasih atas kebaikan tersebut adalah bagian dari bentuk syukur kita kepada Allah ﷻ. Rasulullah  ﷺbersabda:


لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ


“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, seorang yang tidak beryukur (berterima kasih) kepada manusia." (HR. Abu Dawud: 4811)


🌿 Dan lebih dari itu, kita pun diperintahkan untuk membalas kebaikan dengan kebaikan yang serupa. Bahkan, jika seandainya kita tidak sanggup untuk membalasnya dengan sesuatu yang serupa maka balaslah dengan do’a. Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ


“Barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, apabila kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka do’akanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya." (HR. Abu Dawud: 1672)


Contoh Praktek:


▪️Rasulullah ﷺ dan Muth’im bin Adi


Dari Jubair radhiallahu’anhu ia berkata:


أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي أُسَارَى بَدْرٍ لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ


"Nabi ﷺ berkata di hadapan para tawanan perang Badar, “Seandainya Al Muth’im bin ‘Adiy masih hidup lalu dia berbicara kepadaku untuk pembebasan orang-orang busuk ini pasti aku lepaskan mereka kepadanya tanpa tebusan”. (HR. Bukhari: 3139)


Hal ini dilakukan oleh Rasulullah ﷺ karena Muth’im lah yang dahulu pernah melindungi (memberikan jaminan keamanan) Rasulullah ﷺ dari kejahatan penduduk Makkah ketika beliau ﷺ kembali dari Thaif.


▪️Said bin ‘Ash, salah seorang sahabat Nabi. Diceritakan bahwa:


مرَّ سعيد بن العاص بدار رجل بالمدينة، فاسْتسقى، فسَقَوْه، ثم مرَّ بعد ذلك بالدار ومُنادٍ يُنادي عليها فيمَن يَزيد، قال لمولاه: سلْ لَم تُباع هذه؟ فرجَع إليه، فقال: على صاحبها دَينٌ، قال: ارجع إلى الدار، فرجع فوجَد صاحبها جالسًا وغريمه معه، فقال: “لِمَ تبيع دارك؟ قال: لهذا عليّ أربعة آلاف دينار، فنزل وتَحدَّث معهما، وبعَث غلامه، فأتاه ببَدرة، فدَفَع إلى الغريم أربعةَ آلاف، ودفَع الباقي إلى صاحب الدار، ورَكِب ومضى.


"Sa’in bin Al-‘Ash pernah melewati rumah seorang laki-laki di Madinah. Kemudian Sa’id meminta minum, lalu pemilik rumah pun memberikan minum kepadanya. Beberapa waktu setelah itu, Sa’id kembali melewati rumah tersebut, pada saat itu terdengar seorang tengah berteriak kepada siapa yang mau menambah harga rumah (rumah sedang dilelang). Sa’id pun berkata kepada pembantunya:’ Tanyakanlah, kenapa rumah ini dijual?’ Setelah pembantunya bertanya dan kembali ia berkata kepada Sa’id: ‘Pemiliknya memiliki hutang.’ Said pun kembali ke rumah tersebut dan mendapati pemilikinya tengah duduk bersama pemberi hutang. Sa’id bertanya: ‘Kenapa engkau menjual rumahmu?’ Pemilik rumah menjawab: ‘Aku memiliki hutang kepada orang ini sebanyak 4000 Dinar [1] (16,4 M). Sa’id kemudian turun dari tunggangannya dan berbicara dengan mereka berdua. Ia mengutus pembantunya (untuk mengambil harta) lalu ia datang dengan membawa Badrah [2] (7000 dinar). Sa’id pun memberikan 4000 Dinar kepada pemberi hutang dan memberikan sisanya (3000 Dinar) kepada pemilik rumah. Lalu ia pun menaiki tunggangannya dan pergi." (Dinukil secara ringkas dari Alukah.net dengan judul Syukru An-Nas)


________


[1] 1 Dinar = 4,25 gram emas setara dengan 4,25 x 964.000 (harga emas 4 Juni 2021) = 4.097.000. Sehingga 4000 dinar = 16.388.000.000


[2] Badrah adalah 1000 Dirham = 7000 Dinar. Karena 10 Dirham serata dengan 7 Dinar


Allahu Akbar, lihatlah apa yang diperbuat oleh sahabat Nabi yang mulia  ini. Ia membalas kebaikan satu gelas air minum dengan 7000 Dinar yang sekarang setara dengan Rp 28.679.000.000 (28,7 Milyar)


▪️Imam Syafi’i


Diceritakan oleh murid terdekat beliau yaitu Rabi’ bin Sulaiman:


أَخَذَ رَجُلٌ بِرِكَابِ الشَّافِعِي فَقَالَ : يَا رَبِيْعُ أَعْطِهِ أَرْبَعَةَ دَنَانِيْرَ وَاعْذَرْنِي عِنْدَهُ


"Seorang laki-laki memegangi pijakan kaki dari pelana tunggangan Syafi’i, maka beliau pun berkata: Wahai Rabi’ berikanlah laki-laki ini 4 Dinar dan mintakanlah maaf untukku kepadanya." (Hilyah Al-Auliyah, dinukil dari Islamweb)


▪️Ka’ab bin Malik


Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang berkaitan dengan shalat Jum’at sekaligus memberikan pelajaran kepada kita perihal wajibnya kita membalas kebaikan orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kita.


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَكَانَ قَائِدَ أَبِيهِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ بَصَرُهُ عَنْ أَبِيهِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ تَرَحَّمَ لِأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ فَقُلْتُ لَهُ إِذَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ تَرَحَّمْتَ لِأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِي هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ فِي نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضَمَاتِ قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُونَ


"Dari Abdurrahman bin Ka’b bin Malik -dia adalah seorang yang selalu menuntun ayahnya setelah ayahnya buta- dari ayahnya yaitu Ka’ab bin Malik, bahwa apabila dia mendengar adzan pada hari Jum’at (Shalat Jum’at), dia memohonkan rahmat untuk As’ad bin Zurarah. Lantas aku bertanya kepadanya; “Mengapa setiap kali mendengar adzan Jum’at ayah selalu memohonkan rahmat untuk As’ad bin Zurarah?” Beliau menjawab: “Karena dia adalah orang yang pertama kali sebagai pelopor pelaksanaan shalat Jum’at di tengah-tengah kami di Hazmin Nabit yang terletak di Bani Bayadhah di Baqi’ yang biasa disebut Naqi’ul Khadhamat.” Aku bertanya; “Berapakah jumlahnya ketika itu?” Beliau menjawab: “Empat puluh orang.” (HR. Abu Dawud: 1069, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)


✍🏻 Lihatlah sahabat Nabi yang mulia ini Ka’ab bin Malik, setiap mendengarkan azan Jum’at ia mendo’akan As’ad bin Zurarah karena ialah orang yang memberikan kebaikan kepadanya berupa penunaian shalat jum’at dan tata caranya.



🔰Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Zahir Al Minangkabawi

👥Daftar group WA Maribaraja.com, klik: wa.me/6283892330242

📢Gabungkan no admin kami; 083892330563 ke grup Anda, untuk mendapatkan support artikel dakwah setiap hari

♻Silahkan dishare, follow;

Telegram: http://bit.ly/2TEqyHj

Fanspage: http://bit.ly/2NVdxeH

Instagram: http://bit.ly/2S38siB

Minggu, 04 Desember 2022

Ucapkanlah Perkataan Yang Baik (Kaidah Al-Qur'an)

 Ucapkanlah Perkataan Yang Baik (Kaidah Al-Qur'an)


📚 Kaidah Qur’an kali ini membahas mengucapkan perkataan yang baik


Allah ﷻ berfirman:


وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا


"Ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)


Manusia adalah makhluk sosial. Mereka hidup dengan watak dan karakter yang beraneka ragam. Ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang lembut ucapannya dan ada yang kasar. Ada yang luwes suka tersenyum ada pula yang judes dan bermuka masam. Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ اللَّه خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ جَاءَ مِنْهُمْ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ


“Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah dari semua jenis tanah. Kemudian keturunannya datang beragam sesuai dengan unsur tanahnya. Ada di antara mereka yang berkulit merah, putih, hitam, dan antara warna-warna itu. Ada yang lembut dan ada yang kasar, ada yang buruk dan ada yang baik.” (HR. Abu Dawud: 4693)


🌾 Dengan siapapun kita berinteraksi maka kaidah Al-Quran adalah: Ucapkanlah perkataan yang baik. Allah ﷻ berfirman:


وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا


"Ucapkanlah kebaikan kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)


Dalam bacaan yang lain yaitu حَسَنًا dengan menfathah huruf Ha’ dan Sin. Sehingga artinya yaitu: Ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.


Perkatan yang baik itu mencakup bentuk dan maknanya. Pada bentuknya maksudnya yaitu hendaknya lembut, lunak tidak keras dan kasar. Pada maknanya maksudnya yaitu ucapan itu mengandung kebaikan. (Tafsir Ibnu Utsaimin: 3/197)


Jika tidak bisa berkata yang baik maka diamlah. Rasulullah ﷺ bersabda:


وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari: 6018)


CONTOH PRAKTEK


▪️Perintah Allah ﷻ kepada Nabi Musa dan Harun untuk mendakwahi Fir’aun dengan baik dan lembut. Allah ﷻ berfirman:


اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ


"Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 43-44)


▪️Sikap Rasulullah ﷺ kepada pelayan. Anas bin Malik mengatakan:


خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ


"Aku telah melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan ucapan uff  kepadaku." (HR. Bukhari: 6038, Tirmidzi: 2015)


▪️Sikap Rasulullah ﷺ kepada kaum Yahudi. Dari Ummul Mukminin Aisyah, ia berkata:


أنَّ اليَهُودَ أتَوُا النَّبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَقالوا: السَّامُ عَلَيْكَ، قَالَ: وعلَيْكُم، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: السَّامُ علَيْكُم، ولَعَنَكُمُ اللهُ وغَضِبَ علَيْكُم، – وفي رواية قالت: السَّامُ عليكم يا إخوانَ القِرَدةِ والخَنازيرِ، ولعنةُ اللهِ وغضَبُه – فَقَالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: مَهْلًا يا عَائِشَةُ، عَلَيْكِ بالرِّفْقِ، وإيَّاكِ والعُنْفَ، أوِ الفُحْشَ، قَالَتْ: أوَلَمْ تَسْمَعْ ما قالوا؟! قَالَ: أوَلَمْ تَسْمَعِي ما قُلتُ؟ رَدَدْتُ عليهم، فيُسْتَجَابُ لي فيهم، ولَا يُسْتَجَابُ لهمْ فِيَّ


"Kaum Yahudi mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam seraya berkata: As-Samu ‘Alaika (Kematian bagimu). Nabi menjawab: Wa’alaikum (Dan bagi kalian). Aisyah berkata: Kematian bagi kalian, semoga Allah melaknat dan memurkai kalian. – dalam riwayat lain Aisyah berkata: Kematian pula bagi kalian wahai saudara kera dan babi. Laknat dan murka Allah.(Ahmad: 13531) – Lantas Rasullah bersabda: Sabar wahai Aisyah, berlemah lembutlah. Jauhilah sikap kasar dan keji. Aisyah berkata: Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan?! Rasulullah berkata: Tidakkah engkau mendengar apa yang aku ucapkan?! Aku telah membalas ucapan mereka. Do’aku untuk mereka akan dikabulkan sedangkan do’a mereka untukku tidak akan dikabulkan." (HR. Bukhari: 6401)


Apa yang diucapkan oleh Aisyah adalah sesuatu yang haq. Allah ﷻ berfirman:


قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللَّهِ  مَن لَّعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَأَضَلُّ عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ


"Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Maidah: 60)


Hanya saja, cara Aisyah menyampaikan yang tidak baik. Karena itulah Rasulullah ﷺ menegurnya.


▪️Ucapan Ibnu Aun ketika marah.


كان ابن عون لا يغضب، فإذا أغضبه رجل قال: بارك الله فيك


"Ibnu Aun bukanlah seorang pemarah, apabila ada yang membuatnya marah maka ia akan mengatakan: Barakallahu fika (Semoga Allah memberkahimu)." (Siyar A’lam An-Nubala’: 6/366, Ad-Durar As-Saniyah: 2/392)



🔰Semoga bermanfaat.

HAFAL ASMAUL HUSNA MASUK SURGA?

 HAFAL ASMAUL HUSNA MASUK SURGA?


🪶 Banyak orang yang beranggapan bahwa cukup dengan menghafalkan Asmaul Husna maka akan masuk surga. Makanya ada yang dijadikan lagu agar mudah dilafalkan, katanya. Padahal makna ihsha’ yang disebutkan dalam hadits ternyata tidak hanya sekedar menghafalkan saja.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda:


إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ


“Allah ‘azza wajalla mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barangsiapa meng-ihsha’ (menjaganya) maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari: 2736, Muslim: 2677)


🍂 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: Makna ihsha’ (menjaga) sembilan puluh sembilan nama ini yang konsekuensinya dapat memasukkan ke surga bukanlah hanya dengan engkau menuliskannya di kertas kemudian engkau ulang-ulang hingga hafal, akan tetapi maknanya adalah:


▪️Pertama: menghafal lafazhnya


▪️Kedua: memahami maknanya


▪️Ketiga: beribadah kepada Allah ﷻ dengan konsekuensinya, dan hal itu dari dua sisi yaitu:


- Berdo’a kepada Allah ﷻ dengannya, berdasarkan firman-Nya:


وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ


"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya." (QS. Al-A’raf: 180)


- Bersedia melakukan apa-apa yang menjadi konsekuensi dari nama-nama ini. Misalnya Ar-Rahim yang konsekuensinya adalah rahmat maka lakukanlah amal shalih supaya dapat mendatangkan rahmat Allah. Konsekuensi dari Al-Ghafur adalah ampunan, jadi lakukanlah apa-apa yang menjadi sebab untuk pengampunan terhadap dosa-dosamu. Inilah makna ihsha’. (Al-Qaulul Mufid: 2/258-259)


✍🏻 Oleh sebab itu, Asmaul Husna tidak hanya untuk dihafal saja, apalagi sampai dilagukan serta diiringi musik, bertambah lagi kesalahannya. Asmaul husna itu hendaknya dihafal kemudian dipahami serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah makna ihsha’ yang bisa menjadi sebab kita masuk surga.



🔰Semoga bermanfaat.

Sesuatu Yang Dibenci Belum Tentu Buruk dan Yang Dicintai Belum Tentu Baik – Kaidah Qur’an 2

 Sesuatu Yang Dibenci Belum Tentu Buruk dan Yang Dicintai Belum Tentu Baik – Kaidah Qur’an 2



📚 Kaidah Qur’an kali ini membahas sesuatu yang dibenci belum tentu buruk dan yang dicintai belum tentu baik


Allah ﷻ berfirman:


وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)


Pengetahuan manusia terbatas, seperti terbatasnya panca indra mereka. Sesuatu yang dipandang baik oleh manusia belum tentu hakikatnya baik. Sebaliknya yang dibenci belum tentu hakikatnya buruk. Karena itulah, saat seorang mukmin berencana melakukan sesuatu maka disyariatkan baginya untuk melakukan shalat istikharah dan berdoa kepada Allah ﷻ.


Ibadah ini bertujuan agar bersandar kepada ilmu Allah ﷻ untuk mendapatkan pilihan yang terbaik. Karena Allah ﷻ Maha Mengetahui mana yang terbaik buat hamba-Nya. Dari Jabir radhiallahu’anhu dia berkata:


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَالسُّورَةِ مِنْ الْقُرْآنِ إِذَا هَمَّ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ


"Nabi ﷺ pernah mengajarkan istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Qur’an. (Sabdanya): “Jika salah seorang dari kalian menginginkan sesuatu maka hendaknya ia mengerjakan shalat dua rakaat lalu ia mengucapkan: Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang besar, karena Engkaulah yang mampu sedangkan aku tidak mampu, Engkaulah yang Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha Mengetahui dengan segala yang ghaib. Ya Allah jikalau Engkau mengetahui urusanku ini (ia sebutkan hajatnya) adalah baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku -atau berkata, baik di dunia atau di akhirat- maka takdirkanlah untukku serta mudahkanlah bagiku dan berilah berkah kepadaku, sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini (ia menyebutkan hajatnya) buruk untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, -atau berkata, baik di dunia atau pun di akhirat- maka jauhkanlah aku daripadanya, serta takdirkanlah untukku yang baik baik saja, kemudian jadikanlah aku ridha dengannya.) ” Lalu ia menyebutkan hajatnya." (HR. Bukhari: 6382)


🪶 Sebaliknya, ada banyak hal yang terkadang kita benci, padahal justru disitulah terdapat kebaikan yang sangat banyak. Allah ﷻ berfirman:


فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا


"Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa’: 19)


Oleh karena itulah, ketika kita tertimpa sesuatu yang tidak kita sukai setelah kita berusaha dengan baik dan berdo’a maka tugas kita adalah meyakini semua adalah takdir Allah ﷻ yang pasti mengandung hikmah untuk kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:


احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah: “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.” (HR. Muslim: 2664)


🍂 Allah ﷻ Maha Tahu mana yang terbaik buat hamba-Nya. Semua yang ditakdirkan Allah ﷻ untuk hamba-Nya yang beriman pasti baik, sekalipun bisa jadi hal itu tidak disukai oleh hamba tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:


عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ إِنَّ الله لَمْ يَقْضِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ


“Aku kagum terhadap orang yang beriman, tidaklah Allah menentukan takdir kecuali itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Ahmad: 11716, dishahihkan Al-Arnauth)


Ada yang bilang, kehidupan itu seperti kapal yang tengah berlayar, angin terkadang berhembus ke arah yang tidak diinginkan oleh nelayan. Maka sebagai seorang muslim ingatlah kaidah Al-Qur’an ini: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)


▪️ Contoh Praktek:


- Jihad fii sabilillah


- Kisah Nabi Musa yang dihanyutkan ke sungai Nil QS. Al-Qashash: 1-13


- Perjanjian Hudaibiyah


- Kisah Raja dan penasehat



🔰Semoga bermanfaat.

Pakaian Nabi Musa Dilarikan Sebuah Batu

 Pakaian Nabi Musa Dilarikan Sebuah Batu


🪶 Kisah pakaian Nabi Musa dilarikan sebuah batu terdapat dalam hadits yang shahih. Rasulullah ﷺ pernah bercerita tentang sebongkah batu yang dahulu membawa lari pakaian Nabi Musa. Dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda:


كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ وَكَانَ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ فَخَرَجَ مُوسَى فِي إِثْرِهِ يَقُولُ ثَوْبِي يَا حَجَرُ حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى مُوسَى فَقَالُوا وَاللَّهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ وَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَنَدَبٌ بِالْحَجَرِ سِتَّةٌ أَوْ سَبْعَةٌ ضَرْبًا بِالْحَجَرِ


“Dahulu Bani Israil mandi dengan telanjang, hingga sebagian melihat sebagian yang lainnya. Sedangkan Nabi Musa ‘alaihissalam lebih suka mandi sendirian. Maka mereka pun berkata, “Demi Allah, tidak ada menghalangi Musa untuk mandi bersama kita kecuali karena ia adalah seorang laki-laki yang kemaluannya kena hernia. Lalu pada suatu saat Nabi Musa pergi mandi dan meletakkan pakaiannya pada sebuah batu, lalu batu tersebut lari dengan membawa pakaiannya. Maka Musa lari mengejar batu tersebut sambil berkata ‘Wahai batu, kembalikan pakaianku!’ sehingga orang-orang Bani Israil melihat Musa. Mereka lalu berkata, ‘Demi Allah, pada diri Musa tidak ada yang ganjil.’ Musa kemudian mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut dengan satu pukulan.” Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, sungguh pada batu tersebut terdapat bekas pukulan enam atau tujuh akibat pukulannya.” (HR. Bukhari: 278, Muslim: 339)


🍂 Dalam redaksi lain, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ مُوسَى كَانَ رَجُلًا حَيِيًّا سِتِّيرًا لَا يُرَى مِنْ جِلْدِهِ شَيْءٌ اسْتِحْيَاءً مِنْهُ فَآذَاهُ مَنْ آذَاهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَقَالُوا مَا يَسْتَتِرُ هَذَا التَّسَتُّرَ إِلَّا مِنْ عَيْبٍ بِجِلْدِهِ إِمَّا بَرَصٌ وَazإِمَّا أُدْرَةٌ وَإِمَّا آفَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ أَرَادَ أَنْ يُبَرِّئَهُ مِمَّا قَالُوا لِمُوسَى فَخَلَا يَوْمًا وَحْدَهُ فَوَضَعَ ثِيَابَهُ عَلَى الْحَجَرِ ثُمَّ اغْتَسَلَ فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ إِلَى ثِيَابِهِ لِيَأْخُذَهَا وَإِنَّ الْحَجَرَ عَدَا بِثَوْبِهِ فَأَخَذَ مُوسَى عَصَاهُ وَطَلَبَ الْحَجَرَ فَجَعَلَ يَقُولُ ثَوْبِي حَجَرُ ثَوْبِي حَجَرُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَرَأَوْهُ عُرْيَانًا أَحْسَنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ وَأَبْرَأَهُ مِمَّا يَقُولُونَ وَقَامَ الْحَجَرُ فَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَلَبِسَهُ وَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا بِعَصَاهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ بِالْحَجَرِ لَنَدَبًا مِنْ أَثَرِ ضَرْبِهِ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا أَوْ خَمْسًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا }


"“Sesungguhnya Nabi Musa ‘alaihissalam adalah seorang pemuda yang sangat pemalu dan senantiasa badannya tertutup sehingga tidak ada satu pun dari bagian badannya yang terbuka karena sangat pemalunya. Lalu seorang dari Bani Israil mengolok-oloknya. Dia berkata, “Sesungguhnya tidaklah dia ini menutupi tubuhnya melainkan karena ada cacat pada kulitnya, bisa jadi kusta, hernia atau penyakit-penyakit lainnya.” Lau Allah ingin membebaskan Nabi Musa dari apa yang mereka katakan terhadapnya, sehingga pada suatu hari dia mandi sendirian dan meletakkan pakaiannya di atas batu. Maka mandilah dia dan ketika telah selesai dia beranjak untuk mengambil pakaiannya namun batu itu telah melarikan pakaiannya. Maka Musa mengambil tongkatnya dan mengejar batu tersebut sambil memanggil-manggil, “Pakaianku, wahai batu. Pakaianku, wahai batu.” Hingga akhirnya dia sampai ke tempat kerumunan Bani Israil dan mereka melihat Musa dalam keadaan telanjang yang merupakan sebaik-baiknya ciptaan Allah. Dengan kejadian itu Allah membebaskan Musa dari apa yang mereka katakan selama ini. Akhirnya batu itu berhenti lalu Musa mengambil pakaiannya dan memakainya. Kemudian Musa memukul batu tersebut dengan tongkatnya. Sungguh demi Allah, batu tersebut masih tampak bekas pukulan Musa, tiga, empat atau lima pukulan. Untuk kejadian itulah Firman Allah Ta’ala: (“Wahai orang-orang beriman janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang mengolok-olok (menyakiti) Musa lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan”) (QS. Al-Ahzab ayat 69)." (HR. Bukhari: 3404)


✍🏻 Pelajaran dari kisah:


▪️Malu adalah sifat terpuji


▪️Pentingnya menjaga muruah (marwah)


▪️Tidak ada manusia yang selamat dari celaan orang-orang bodoh


▪️Sesuatu yang dibenci bisa jadi mengandung kebaikan yang banyak



🔰Semoga bermanfaat.

Baik dan Buruk

Ketika kita tertimpa sesuatu yang tidak kita sukai setelah kita berusaha dengan baik dan berdo’a maka tugas kita adalah meyakini semua adalah takdir Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda:


احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah: “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.” (HR. Muslim: 2664)

Jangan Melupakan Kebaikan Orang Lain- Kaidah Qur’an 3



🪶 Kaidah Qur’an kali ini membahas jangan melupakan kebaikan orang lain


Allah ﷻ berfirman:


وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ


"Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu." (QS. Al-Baqarah: 237)


Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadikan semua hidup kita; perbuatan, ucapan, dan bahkan setiap hembusan nafas sebagai ibadah kepada Allah ﷻ. Termasuk diantaranya ketika kita memberi dan diberi kebaikan. Ketika kita berada pada posisi pemberi kebaikan kepada orang lain maka kita diperintahkan untuk memberi dengan ikhlas tanpa pamrih. Tidak mengharapkan balasan atas kebaikan yang telah dilakukan itu, bahkan tidak mengharapkan ucapan terima kasih. Sebagaimana firman Allah ﷻ ketika mengisahkan tentang sifat Al-Abrar yaitu orang-orang yang beruntung penghuni surga:


 وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا


"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (QS. Al-Insan: 8-9)


🍂 Hal ini, untuk menjadikan kita betul-betul hidup untuk Allah ﷻ. Semua kebaikan; pemberian, sedekah, hadiah, dst kepada orang lain semata-mata untuk Allah ﷻ bukan untuk manusia, kita mengharap balasan Allah ﷻ bukan balasan manusia sehingga dengan inilah kita mewujudkan hakikat Tauhid dan kita tidak akan pernah kecewa dengan apa yang terjadi setelah itu, meski orang yang kita berikan kebaikan itu membalas air susu dengan air tuba.


Ketika kita berada pada posisi diberi, kita menerima kebaikan dari orang lain, maka Islam mengajarkan kepada kita untuk tidak melupakan kebaikan tersebut, sekecil apapun kebaikan tersebut. Inilah kaidah Al-Qur’an; Jangan lupakan kebaikan. Allah ﷻ berfirman:


وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ


"Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu." (QS. Al-Baqarah: 237)


🌾 Karenanya Allah ﷻ sangat murka kepada orang-orang yang mudah melupakan kebaikan. Seperti para istri yang buruk yang dengan mudahnya melupakan banyak kebaikan suaminya hanya lantaran satu kesalahan yang diperbuat suaminya. Rasulullah ﷺ bersabda:


أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أكْثَرُ أهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ قيلَ: أيَكْفُرْنَ باللهِ ؟ قالَ: يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، ويَكْفُرْنَ الإحْسَانَ، لو أحْسَنْتَ إلى إحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شيئًا، قالَتْ: ما رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ


“Aku pernah diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah para wanita, karena mereka sering berbuat kufur.” Beliau ditanya: “Apakah mereka berbuat kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengingkari pemberian dan kebaikan (suami). Bilamana engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, sementara ia hanya melihat satu kesalahan saja darimu, ia akan mengatakan: “Aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”. (HR. Bukhari: 29)


Kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat tersebut. Berterima kasih atas kebaikan tersebut adalah bagian dari bentuk syukur kita kepada Allah ﷻ. Rasulullah  ﷺbersabda:


لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ


“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, seorang yang tidak beryukur (berterima kasih) kepada manusia." (HR. Abu Dawud: 4811)


🌿 Dan lebih dari itu, kita pun diperintahkan untuk membalas kebaikan dengan kebaikan yang serupa. Bahkan, jika seandainya kita tidak sanggup untuk membalasnya dengan sesuatu yang serupa maka balaslah dengan do’a. Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ


“Barang siapa yang berbuat kebaikan kepada kalian maka balaslah, apabila kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya maka do’akanlah dia hingga kalian melihat bahwa kalian telah membalasnya." (HR. Abu Dawud: 1672)


Contoh Praktek:


▪️Rasulullah ﷺ dan Muth’im bin Adi


Dari Jubair radhiallahu’anhu ia berkata:


أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي أُسَارَى بَدْرٍ لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا ثُمَّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ


"Nabi ﷺ berkata di hadapan para tawanan perang Badar, “Seandainya Al Muth’im bin ‘Adiy masih hidup lalu dia berbicara kepadaku untuk pembebasan orang-orang busuk ini pasti aku lepaskan mereka kepadanya tanpa tebusan”. (HR. Bukhari: 3139)


Hal ini dilakukan oleh Rasulullah ﷺ karena Muth’im lah yang dahulu pernah melindungi (memberikan jaminan keamanan) Rasulullah ﷺ dari kejahatan penduduk Makkah ketika beliau ﷺ kembali dari Thaif.


▪️Said bin ‘Ash, salah seorang sahabat Nabi. Diceritakan bahwa:


مرَّ سعيد بن العاص بدار رجل بالمدينة، فاسْتسقى، فسَقَوْه، ثم مرَّ بعد ذلك بالدار ومُنادٍ يُنادي عليها فيمَن يَزيد، قال لمولاه: سلْ لَم تُباع هذه؟ فرجَع إليه، فقال: على صاحبها دَينٌ، قال: ارجع إلى الدار، فرجع فوجَد صاحبها جالسًا وغريمه معه، فقال: “لِمَ تبيع دارك؟ قال: لهذا عليّ أربعة آلاف دينار، فنزل وتَحدَّث معهما، وبعَث غلامه، فأتاه ببَدرة، فدَفَع إلى الغريم أربعةَ آلاف، ودفَع الباقي إلى صاحب الدار، ورَكِب ومضى.


"Sa’in bin Al-‘Ash pernah melewati rumah seorang laki-laki di Madinah. Kemudian Sa’id meminta minum, lalu pemilik rumah pun memberikan minum kepadanya. Beberapa waktu setelah itu, Sa’id kembali melewati rumah tersebut, pada saat itu terdengar seorang tengah berteriak kepada siapa yang mau menambah harga rumah (rumah sedang dilelang). Sa’id pun berkata kepada pembantunya:’ Tanyakanlah, kenapa rumah ini dijual?’ Setelah pembantunya bertanya dan kembali ia berkata kepada Sa’id: ‘Pemiliknya memiliki hutang.’ Said pun kembali ke rumah tersebut dan mendapati pemilikinya tengah duduk bersama pemberi hutang. Sa’id bertanya: ‘Kenapa engkau menjual rumahmu?’ Pemilik rumah menjawab: ‘Aku memiliki hutang kepada orang ini sebanyak 4000 Dinar [1] (16,4 M). Sa’id kemudian turun dari tunggangannya dan berbicara dengan mereka berdua. Ia mengutus pembantunya (untuk mengambil harta) lalu ia datang dengan membawa Badrah [2] (7000 dinar). Sa’id pun memberikan 4000 Dinar kepada pemberi hutang dan memberikan sisanya (3000 Dinar) kepada pemilik rumah. Lalu ia pun menaiki tunggangannya dan pergi." (Dinukil secara ringkas dari Alukah.net dengan judul Syukru An-Nas)


________


[1] 1 Dinar = 4,25 gram emas setara dengan 4,25 x 964.000 (harga emas 4 Juni 2021) = 4.097.000. Sehingga 4000 dinar = 16.388.000.000


[2] Badrah adalah 1000 Dirham = 7000 Dinar. Karena 10 Dirham serata dengan 7 Dinar


Allahu Akbar, lihatlah apa yang diperbuat oleh sahabat Nabi yang mulia  ini. Ia membalas kebaikan satu gelas air minum dengan 7000 Dinar yang sekarang setara dengan Rp 28.679.000.000 (28,7 Milyar)


▪️Imam Syafi’i


Diceritakan oleh murid terdekat beliau yaitu Rabi’ bin Sulaiman:


أَخَذَ رَجُلٌ بِرِكَابِ الشَّافِعِي فَقَالَ : يَا رَبِيْعُ أَعْطِهِ أَرْبَعَةَ دَنَانِيْرَ وَاعْذَرْنِي عِنْدَهُ


"Seorang laki-laki memegangi pijakan kaki dari pelana tunggangan Syafi’i, maka beliau pun berkata: Wahai Rabi’ berikanlah laki-laki ini 4 Dinar dan mintakanlah maaf untukku kepadanya." (Hilyah Al-Auliyah, dinukil dari Islamweb)


▪️Ka’ab bin Malik


Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang berkaitan dengan shalat Jum’at sekaligus memberikan pelajaran kepada kita perihal wajibnya kita membalas kebaikan orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kita.


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَكَانَ قَائِدَ أَبِيهِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ بَصَرُهُ عَنْ أَبِيهِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ تَرَحَّمَ لِأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ فَقُلْتُ لَهُ إِذَا سَمِعْتَ النِّدَاءَ تَرَحَّمْتَ لِأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِي هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِي بَيَاضَةَ فِي نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضَمَاتِ قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُونَ


"Dari Abdurrahman bin Ka’b bin Malik -dia adalah seorang yang selalu menuntun ayahnya setelah ayahnya buta- dari ayahnya yaitu Ka’ab bin Malik, bahwa apabila dia mendengar adzan pada hari Jum’at (Shalat Jum’at), dia memohonkan rahmat untuk As’ad bin Zurarah. Lantas aku bertanya kepadanya; “Mengapa setiap kali mendengar adzan Jum’at ayah selalu memohonkan rahmat untuk As’ad bin Zurarah?” Beliau menjawab: “Karena dia adalah orang yang pertama kali sebagai pelopor pelaksanaan shalat Jum’at di tengah-tengah kami di Hazmin Nabit yang terletak di Bani Bayadhah di Baqi’ yang biasa disebut Naqi’ul Khadhamat.” Aku bertanya; “Berapakah jumlahnya ketika itu?” Beliau menjawab: “Empat puluh orang.” (HR. Abu Dawud: 1069, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)


✍🏻 Lihatlah sahabat Nabi yang mulia ini Ka’ab bin Malik, setiap mendengarkan azan Jum’at ia mendo’akan As’ad bin Zurarah karena ialah orang yang memberikan kebaikan kepadanya berupa penunaian shalat jum’at dan tata caranya.



🔰Semoga bermanfaat.

Guru Penuh Cinta