Buku Individu Hasil Karya Kepala Madrasah

Karya perdana Kepala Madrasah yang merupakan hasil Pelatihan Menulis Buku yang diselenggarakan atas kerjasama Pusat Pengembangan Profesi Guru (P3G) Jawa Timur dan Penerbit Delta Pustaka.

Buku Kolaborasi Hasil Karya Kepala Madrasah

Karya Kepala MI Nurul Jannah NW Ampenan di Musim Pandemi Covid-19 kolaborasi dengan Kepala MIN 2 Kota Mataram.

14 Buku Kolaborasi Hasil Karya Kepala Madrasah

14 Buku ini merupakan Hasil Karya Kepala Madrasah yang melakukan Kolaborasi dengan bapak dan ibu Guru Se-Indonesia.

Kepala Madrasah Menjadi Pemateri dalam Sosialisasi 4 Pilar MPR RI

Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI yang dilaksanakan oleh komunitas belajar atas prakarsa Kepala SMPN 10 Mataram, Kepala Madrasah mendapat tugas untuk menjadi nara sumber salah satu empat pilar tersebut.

Pengolahan Bubur Kertas (MoU dengan POSYANTEK AMPENAN)

Dalam rangka memperluas jaringan dan membekali siswa-siswi dengan skill yang memadai terutama dalama menghadapi perkembangan zaman yang semakin rumit dan sulit, Kepala Madrasah membuat MoU dengan POSYANTEK Ampenan untuk melatih membuat aneka kerajinan dari bubur kertas.

Imtaq Bersama (Setiap Hari Selasa-Kamis)

Untuk mempersiapkan generasi yang kuat iman dan islamnya, maka Kepala Madrasah bersama bapak-ibu guru memprogramkan kegiatan imtaq bersama yang diawali dengan pembacaan shalawat Nahdlatain, asma'ul husna, juz 'amma, latihan pidato, tausiyah, doa, dan diakhiri dengan shalat duha berjamaah.

Latihan Manasik Haji (Program Tahunan)

Sebagai langkah awal untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima, Kepala Madrasah bersama bapak-ibu guru membuat program tahunan, yakni melakukan latihan manasik haji di kantor embarkasi Lombok dengan harapan mudah-mudahan memiliki ilmu yang mumpuni dan segera memiliki nasib ke baitullah al haram.

Upacara Hari Santri (Kegiatan Tahunan Siswa)

Sebagai warga negara yang nasionalis, Kepala Madrasah bersama warga madrasah melakukan upacara bendera setiap hari senin dan hari-hari besar nasional terutama hari santri yang merupakan hari kebanggaan bagi santri pondok pesantren seluruh Indonesia.

Upacara Hari Santri (Kegiatan Tahunan Guru)

Sebagai warga negara yang nasionalis, Kepala Madrasah bersama warga madrasah melakukan upacara bendera setiap hari senin dan hari-hari besar nasional terutama hari santri yang merupakan hari kebanggaan bagi santri pondok pesantren seluruh Indonesia.

Lomba Calistung MI Se-Kota Mataram

Untuk mengasah bakat, minat, dan ilmu pengetahuan yang diperoleh, siswa-siswi unjuk gigi dalam setip event lomba, baik yang diadakan oleh FKKMI, KKM, maupun lembaga/instansi lainnya.

Sabtu, 01 Maret 2025

Niat puasa satu bulan penuh

 

 Niat puasa satu bulan penuh



Seperti yang kita tau, para ulama' Syafi'iyah menganjurkan untuk niat ala madzhab Maliki di malam pertama ramadhan, tujuannya supaya kalau ada hari yang lupa niat, maka puasanya bisa sah ala madzhab Maliki.

Tapi kemudian ada problem : ketika suatu hari bener² lupa niat saat malam, apakah dihari itu harus 100% pindah ke Malikiyah atau boleh niat saja yang Malikiyah dan selainnya tetap Syafi'iyah?

Dari komentar² post kemarin yang saya pahami redaksi kitab yang ditampilkan memang harus 100% pindah Malikiyah.

Tapi tenang, kita bisa pindah 100% ke Malikiyah, dan kita bisa ikut pendapat mu'tamad Malikiyah yang menyatakan boleh talfiq.

Maka, kita boleh niat ala Malikiyah dihari itu, sedangkan permasalah lainnya, seperti yang membatalkan dan sebagainya, tetap ikut Syafi'iyah. Karena pendapat kuat Malikiyah menilai boleh talfiq.

Ini perlu, karena jarang banget yang paham fikih Malikiyah.

وَبِالْجُمْلَةِ فَفِي التَّلْفِيقِ فِي الْعِبَادَةِ الْوَاحِدَةِ مِنْ مَذْهَبَيْنِ طَرِيقَتَانِ: الْمَنْعُ وَهُوَ طَرِيقَةُ الْمَصَارِوَةِ وَالْجَوَازُ وَهُوَ طَرِيقَةُ الْمَغَارِبَةِ وَرُجِّحَتْ. [الشرح الكبير للدسوقي].

وَاَلَّذِي قَالَهُ شَيْخُنَا الْأَمِيرُ عَنْ شَيْخِهِ الْعَدَوِيِّ عَنْ شَيْخِهِ الصَّغِيرِ وَغَيْرِهِ: أَنَّ الصَّحِيحَ جَوَازُهُ، وَهُوَ فُسْحَةٌ.

لَكِنْ لَا يَنْبَغِي فِعْلُهَا فِي النِّكَاحِ، لِأَنَّهُ يُحْتَاطُ فِي الْفُرُوجِ مَا لَا يُحْتَاطُ فِي غَيْرِهَا. [حاشية الصاوي على الشرح الصغير].

Para suami yang pengen matsna harap fokus ke paragraf kedua Hasyiyah Showi

Double Protector Niat Puasa

----------------------

 

Bagaimana caranya supaya kita aman dari lupa niat puasa..❓❓

    

                        --<>--<>--<>--<>--

 

وعند الإمام مالك أنه يكفي نية صوم جميع الشهر في اول ليلة منه، وللشافعي تقليده في ذلك لئلا ينسي النية في ليلة فيحتاج للقضاء.

[الباجوري، ١/ ٦٣١]

 

Menurut Imam Malik, Niat puasa untuk satu bulan sekaligus di awal malam Ramadhan sudah mencukupi. Bagi (Madzhab) Syafi'i dapat mengikutinya dalam masalah niat ini, supaya ketika lupa niat di malam hari tidak butuh Qodho' puasa.

 niat puasa sebulan penuh

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى   

“Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardhu karena Allah."

TIDAK PUASA TAPI WAJIB IMSAK

 TIDAK PUASA TAPI WAJIB IMSAK

Ada (6) kondisi, dimana seseorang yang tidak berpuasa, selain wajib meng-Qodho',  di hari itu juga dia wajib imsak / menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa hingga Maghrib tiba.

(dalam artian: meskipun tidak dinilai berpuasa, tapi tetap wajib imsak/ menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa).

(Kasus ini Khusus untuk puasa Romadhon)

Yaitu:
1. Orang yang tidak puasa tanpa udzur.

2. Orang yang tidak niat di malam hari, meskipun karena lupa.

(Karena, lupa itu berarti dia teledor ,tidak fokus / tidak punya atensi terhadap Ibadah)

3. Orang yang makan sahur karena mengira masih malam. Ternyata sudah Subuh.

4. Orang yang berbuka puasa (petang hari) karena mengira sudah Maghrib. Ternyata masih belum tiba Maghrib.

(Namun Jika berbuka berdasarkan ijtihad-nya , maka boleh berbuka ; puasanya tetap Sah)

5. Orang yang tidak puasa pada tanggal 30 Sya'ban.   Ternyata hari itu sudah masuk bulan Romadhon.

6. Orang yang rongga-nya kemasukan air tanpa sengaja dari aktifitas yang tidak dianjurkan , saat berkumur, istinsyaq (menyerap air ke hidung [saat wudhu] yakni: berkumur dan istinsyaq yang ke Empat dst... Atau ke Satu, Dua dan Tiga tapi dilakukan secara berlebihan) dan mandi (yang bukan mandi Sunnah atau mandi Wajib).

Al-Taqrirot al-Sadidat : 1/457

⚫ حالات وجوبِ القضاء مع الإمساك إلى الغروب: ست (۱)

۱ ـ على مُتَعدٍّ بِفِطْرِه .

۲ ـ على تاركِ النيّةِ ليلاً ولو سهوا (٢) .

٣ ــ على مَن تسخَّرَ ظانا بقاءَ الليلِ فبانَ خِلافُه .

٤ ـ على مَن أفطَرَ ظانا الغروبَ فبانَ خِلافُه (۳).

ه ـ على مَن بانَ لهُ يومُ ثلاثينَ شعبانَ أنّه مِن رمضانَ

 ٦ ـ على مَن سَبقَهُ ماءٌ غيرُ مشروعٍ (غيرُ مأمورٍ بِه) : مِن مضمضة أو استنشاقٍ أو غُسلٍ .
___
(1) ولا يكون ذلك إلا في رمضانَ وذلك لحرمتِه .

 (۲) لأن نسيانَه يُشعِرُ بتقصيرِه بتركِ الاهتمامِ بالعبادةِ .

(۳) وإن اعتمدَ ظنًَه على اجتهادٍ فلا يحرمُ إقدامُه على الفطرِ، وأما إذا لم يَعتمِدْ على اجتهادٍ فيحرمُ إقدامُه على الفطرِ لأن الأصلَ بقاءُ النهارٍ.

Hukum zakat fitrah dengan Uang

 Kalau menurut Madzhab Syafi'i memang tidak ada pendapat yang mengabsahkan zakat fitrah memakai uang seperti berlaku pada zaman sekarang, yang membolehkan mengeluarkan zakat fitrah memakai uang ialah Madzhab Hanafi. Kalau begitu realitanya berarti selama ini bagi penganut Madzhab Syafi'i zakat fitrah yang mereka keluarkan tidak sah dan apakah tidak ada solusinya? Solusinya supaya sah mengeluarkan zakat fitrah memakai uang maka dengan mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah yang membolehkan mengeluarkan zakat fitrah memakai uang, sebab ada salah satu pendapat dari kalangan Syafi'iyah yang membolehkan mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah dalam masalah ini dengan alasan uang lebih bisa bermanfaat bagi orang faqir. Dengan mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah maka zakat yang dikeluarkan memakai uang sesuai ketentuan dalam Madzhab Hanafi karena hanya Madzhab Hanafi yang membolehkan mengeluarkan zakat memakai uang. Ukuran sho' dalam Madzhab Hanafi bukan seperti ketentuan dalam Madzhab Syafi'i yaitu sesuai bahan makanan pokok setempat, kalau madzhab Hanafi ukuran sho' mengikuti aturan dalam hadits yaitu satu sho' gandum, kurma dan anggur kering, bila diukur +- 3.8 Kg

Dengan demikian, mengeluarkan zakat fitrah memakai uang tidak boleh Menurut Madzhab Syafi'i dan bisa boleh dengan mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah.

مَسْأَلَةٌ) لَا تُجْزِئُ الْقِيمَةُ فِي الْفِطْرَةِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَابْنُ الْمُنْذِرِ
* وقال أبو حنيفة يجوز وحكاه ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَعُمَرَ بْنِ عبد العزيز والثوري قال وقال اسحق وَأَبُو ثَوْرٍ لَا تُجْزِئُ إلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ
(Masalah) Tidak sah lagi tidak mencukupi uang pada zakat fitrah menurut kami (Syafi'iyah) dan berpendapat pula Malik, Ahmad dan Ibn Mundzir. Berkata Abu Hanifah "Boleh" dan Ibn Mundzir menceritakan dari Hasan Bashri, Umar bin Abdul Aziz dan Tsauriy. Berkata Abu Ishaq dan Abu Tsur "Tidak sah lagi tidak mencukupi kecuali dharurat".
[Al Majmuu' Syarh al Muhadzdzab VI/144]

ومذهب الإمام الشافعي أنه لا تجزئ القيمة، بل لا بدّ من إخراجها قوتاً من غالب أقوات ذلك البلد. إلا أنه لا بأس باتباع مذهب الإمام أبي حنيفة رحمه الله تعالى في هذه المسألة في هذا العصر، وهو جواز دفع القيمة، ذلك لأن القيمة أنفع للفقير اليوم من الفقير نفسه، واقرب إلى تحقيق الغاية المرجوة.
Madzhab Imam Syafi'i tidak sah lagi tidak mencukupi mengeluarkan uang dalam zakat fitrah bahkan tidak dapat tidak mengeluarkan zakat fitrah dengan makanan pokok daerahnya (negaranya) kecuali tidak masalah (sah mengeluarkan zakat fitrah memakai uang) dengan mengikuti Madzhab Imam Abu Hanifah - Semoga Allah merahmati beliau - dalam masalah ini dan zaman kini yang membolehkan mengeluarkan zakat fitrah memakai uang, dikarenakan uang lebih bermanfaat bagi orang fakir dari orang fakir itu sendiri dan lebih realistis dalam memastikan tujuan yang diharapkan".
[Al Fiqh Al Manhaji ala al Madzhab as Syafi'i I/230]

وَلَا يجوز إِخْرَاج الْقيمَة فِي الزَّكَاة وَبِه قَالَ مَالك وَأحمد إِلَّا أَن مَالِكًا قَالَ يجوز إِخْرَاج الذَّهَب عَن الْفضة وَالْفِضَّة عَن الذَّهَب على سَبِيل الْبَدَل
وَعَن أَحْمد فِي إِخْرَاج الذَّهَب عَن الْفضة رِوَايَتَانِ
وَقَالَ أَبُو حنيفَة يجوز إِخْرَاج الْقيمَة فِي ذَلِك وَلَا يجوز إِخْرَاج الْمَنَافِع وَلَا إِخْرَاج نصف صَاع من بر عَن صَاع من شعير فِي الْفطْرَة
[Hilyah al Ulama' Fii Ma'rifah Madzaahib al Fuq

TERJEMAH KITAB NIHAYATUZZAEN HAL 186 BAB PUASA PART 3

TERJEMAH KITAB NIHAYATUZZAEN
HAL 186

BAB PUASA
PART 3

كتاب نهاية الزين
[نووي الجاوي]

فهرس الكتاب  باب الصوم

 وَلَو نوى صَوْم غَد وَهُوَ يَعْتَقِدهُ الْإِثْنَيْنِ فَكَانَ الثُّلَاثَاء أَو صَوْم رَمَضَان هَذِه السّنة وَهُوَ يعتقدها سنة ثَلَاث فَكَانَت سنة أَربع صَحَّ صَوْمه . وَلَا عِبْرَة بِالظَّنِّ الْبَين خَطؤُهُ

بخلاف لَو نوى صَوْم الثُّلَاثَاء لَيْلَة الْإِثْنَيْنِ وَلم يخْطر بِبَالِهِ صَوْم غَد أَو صَوْم رَمَضَان سنة ثَلَاث وَكَانَت سنة أَربع وَلم يخْطر بِبَالِهِ السّنة الْحَاضِرَة فَإِنَّهُ لَا يَصح لِأَنَّهُ لم يعين الْوَقْت الَّذِي نوى فِي ليلته وَلَو نوى صَوْم غَد يَوْم الْأَحَد مثلا وَهُوَ غَيره فَالْأَوْجه الصِّحَّة من الغالط لَا الْعَامِد لتلاعبه وَخرج بِالتَّعْيِينِ مَا لَو نوى الصَّوْم عَن فَرْضه أَو عَن فرض وقته فَلَا يَكْفِي لِأَنَّهُ فِي الأولى يحْتَمل رَمَضَان وَغَيره وَفِي الثَّانِيَة يحْتَمل الْقَضَاء وَالْأَدَاء

وَأَقل التَّعْيِين هُنَا أَن يَنْوِي صَوْم غَد عَن رَمَضَان وَلَا يشْتَرط التَّعَرُّض للغد بِخُصُوصِهِ لحُصُول التَّعْيِين دونه كَأَن يَقُول الْخَمِيس مثلا عَن رَمَضَان أَو يَقُول رَمَضَان بِدُونِ ذكر يَوْم وَإِنَّمَا هُوَ مِثَال للتبييت بل يَكْفِي نِيَّة دُخُوله فِي صَوْم الشَّهْر
(وأكملها) أَي النِّيَّة وَعبارَة الْمِنْهَاج كالمحرر كَمَال التَّعْيِين (نَوَيْت صَوْم غَد عَن أَدَاء فرض رَمَضَان هَذِه السّنة لله تَعَالَى) إِيمَانًا واحتسابا بِإِضَافَة رَمَضَان إِلَى مَا بعْدهَا لتتميز عَن أضدادها ويغني عَن ذكر الْأَدَاء أَن يَقُول عَن هَذَا الرمضان واحتيج لذكره مَعَ هَذِه السّنة وَإِن اتَّحد محترزهما إِذْ فرض غير هَذِه السّنة لَا يكون إِلَّا قَضَاء لِأَن لفظ الْأَدَاء يُطلق وَيُرَاد بِهِ الْفِعْل كَذَا قَالَه الرَّمْلِيّ

وَالثَّانِي الْإِمْسَاك عَن جَمِيع المفطرات الْأَرْبَعَة الْمَذْكُورَة فِي قَوْله (وَيفْطر عَامِدًا عَالم مُخْتَار) فَخرج بالعمد النسْيَان فَلَو أكل أَو شرب نَاسِيا للصَّوْم لَا يضرّهُ لقَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من نسي وَهُوَ صَائِم فَأكل أَو شرب فليتم صَوْمه فَإِنَّمَا أطْعمهُ الله وسقاه وبالعلم بِالتَّحْرِيمِ الْجَهْل بِهِ إِذا كَانَ جَاهِلا مَعْذُورًا فَلَا يفْطر وبالاختيار الْإِكْرَاه فَلَو أكره حَتَّى أكل أَو شرب لَا يبطل صَوْمه

(بجماع) أَي إِدْخَال حَشَفَة أَو قدرهَا من مقطوعها فرجا قبلا أَو دبرا من آدَمِيّ أَو غَيره أنزل أَو لَا عَامِدًا مُخْتَارًا عَالما بِالتَّحْرِيمِ فَلَا يفْطر بِالْوَطْءِ نَاسِيا للصَّوْم وَإِن تكَرر وَلَا بِالْإِكْرَاهِ مَا لم يكن زنا لِأَنَّهُ لَا يُبَاح بِالْإِكْرَاهِ فيفطر بِهِ وَاعْتمد الْعَلامَة العزيزي الْإِطْلَاق وَقَالَ لَا يفْطر حَيْثُ أكره على الزِّنَا لشُبْهَة الْإِكْرَاه وَالْحُرْمَة من حَيْثُ نفس الْوَطْء وَكَذَا لَو وطىء جَاهِلا بِأَن الْوَطْء مُبْطل للصَّوْم وَكَانَ مَعْذُورًا كَمَا مر وَلَو أَدخل شخص ذكره فِي دبر نَفسه فَإِنَّهُ يفْطر وَيحد وَيفْسد حجه وَيجب عَلَيْهِ الْغسْل وَالْكَفَّارَة فِي الصَّوْم كَمَا نقل عَن البُلْقِينِيّ

(واستمناء) أَي طلب خُرُوج الْمَنِيّ وَهُوَ مُبْطل للصَّوْم مُطلقًا سَوَاء كَانَ بِيَدِهِ أَو بيد حليلته أَو غَيرهمَا بِحَائِل أَو لَا بِشَهْوَة أَو لَا أما إِذا كَانَ الْإِنْزَال من غير طلب خُرُوج الْمَنِيّ فَتَارَة يكون بِمُبَاشَرَة مَا تشتهيه الطباع السليمة أَو لَا فَإِن كَانَ لَا تشتهيه الطباع السليمة كالأمرد الْجَمِيل والعضو المبان فَلَا فطر بالإنزال مُطلقًا سَوَاء كَانَ بِشَهْوَة أَو لَا بِحَائِل أَو لَا وَإِن كَانَ تشتهيه الطباع السليمة فَتَارَة يكون من مَحَارمه وَتارَة لَا فَإِن كَانَ من الْمَحَارِم وَكَانَ بِشَهْوَة وَبِدُون حَائِل أفطر وَإِلَّا فَلَا وَإِن لم يكن من الْمَحَارِم فَإِن كَانَ بِدُونِ حَائِل أفطر سَوَاء كَانَ بِشَهْوَة أَو لَا أما وَإِن كَانَ بِحَائِل وَلَو رَقِيقا جدا فَلَا إفطار وَلَو بِشَهْوَة كَمَا قَالَ
(لَا بِضَم بِحَائِل) وَالْمرَاد بالشهوة أَن يقْصد مُجَرّد اللَّذَّة من غير أَن يقْصد خُرُوج الْمَنِيّ وَإِلَّا كَانَ استمناء وَهُوَ مفطر مُطلقًا كَمَا مر وَخرج بِالْمُبَاشرَةِ النّظر والفكر فَلَو نظر أَو تفكر فأمنى فَلَا فطر مَا لم يكن من عَادَته الْإِنْزَال بذلك وَإِلَّا أفطر وَلَو أحس بانتقال الْمَنِيّ وتهيئه

-----------------------------------
TERJEMAH KITAB NIHAYATUZZAEN
HAL 186

BAB PUASA
PART 3

وَلَو نوى صَوْم غَد وَهُوَ يَعْتَقِدهُ الْإِثْنَيْنِ فَكَانَ الثُّلَاثَاء ، أَو صَوْم رَمَضَان هَذِه السّنة وَهُوَ يعتقدها سنة ثَلَاث ، فَكَانَت سنة أَربع صَحَّ صَوْمه . وَلَا عِبْرَة بِالظَّنِّ الْبَين خَطؤُهُ

Contoh kasus:

Jika ia berniat puasa esok hari dengan meyakini bahwa esok adalah hari Senin, namun ternyata hari Selasa, atau ia berniat puasa Ramadhan tahun ini dengan keyakinan bahwa tahun ini adalah tahun ketiga, namun ternyata tahun keempat, maka puasanya tetap sah.

Kesalahan dalam prasangka yang jelas keliru tidak memengaruhi keabsahan puasanya.

بخلاف  لَو نوى صَوْم الثُّلَاثَاء لَيْلَة الْإِثْنَيْنِ وَلم يخْطر بِبَالِهِ صَوْم غَد أَو صَوْم رَمَضَان سنة ثَلَاث وَكَانَت سنة أَربع وَلم يخْطر بِبَالِهِ السّنة الْحَاضِرَة فَإِنَّهُ لَا يَصح لِأَنَّهُ لم يعين الْوَقْت الَّذِي نوى فِي ليلته.

 Berbeda Jika seseorang berniat puasa hari Selasa Berniyatnya pada malam Senin, namun tidak terlintas dalam pikirannya untuk berpuasa esok hari atau berpuasa Ramadan tahun ketiga, padahal saat itu adalah tahun keempat, dan dia tidak memikirkan tahun saat ini, maka puasanya tidak sah karena dia tidak menetapkan waktu yang jelas untuk niat puasanya pada malam itu.

 وَلَو نوى صَوْم غَد يَوْم الْأَحَد مثلا وَهُوَ غَيره فَالْأَوْجه الصِّحَّة من الغالط لَا الْعَامِد لتلاعبه

Jika seseorang berniat puasa esok hari (misalnya hari Minggu), padahal hari yang sebenarnya bukan hari tersebut, maka pendapat yang lebih kuat adalah puasanya sah jika kesalahan itu tidak disengaja (karena keliru), namun tidak sah jika disengaja (karena main-main dengan niat).

 وَخرج بِالتَّعْيِينِ مَا لَو نوى الصَّوْم عَن فَرْضه (١ ) أَو عَن فرض وقته(٢ ) فَلَا يَكْفِي  ,   لِأَنَّهُ فِي الأولى يحْتَمل رَمَضَان وَغَيره وَفِي الثَّانِيَة يحْتَمل الْقَضَاء وَالْأَدَاء

Pengecualian dari keharusan menetapkan waktu secara spesifik adalah jika seseorang berniat puasa untuk kewajibannya(1) secara umum atau untuk kewajiban (2) waktu tersebut tanpa merinci apakah itu qadha (mengganti puasa) atau ada' (puasa tepat waktu), maka hal itu tidak mencukupi.

Sebab, dalam kasus pertama(1), niat tersebut bisa berarti puasa Ramadan atau puasa lain, sedangkan dalam kasus kedua(2), bisa berarti qadha atau ada', sehingga niatnya tidak jelas.

وَأَقل التَّعْيِين هُنَا أَن يَنْوِي صَوْم غَد عَن رَمَضَان، وَلَا يشْتَرط التَّعَرُّض للغد بِخُصُوصِهِ لحُصُول التَّعْيِين دونه.   
 كَأَن يَقُول الْخَمِيس مثلا عَن رَمَضَان أَو يَقُول رَمَضَان بِدُونِ ذكر يَوْم.  وَإِنَّمَا هُوَ مِثَال للتبييت . بل يَكْفِي نِيَّة دُخُوله فِي صَوْم الشَّهْر

Dan kadar minimal dalam menentukan niat di sini adalah " seseorang berniat untuk berpuasa esok hari karena Ramadan", dan tidak disyaratkan untuk menyebut hari esok secara khusus guna mendapatkan penentuan niat. Misalnya, seseorang mengatakan,
 "Kamis karena Ramadan," atau hanya menyebut "Ramadan" tanpa menyebut hari tertentu.  Hal ini hanyalah contoh dari niat yang dilakukan di malam hari (tabyit). Bahkan, cukup dengan niat memasukkan dirinya dalam puasa bulan tersebut.

(وأكملها) أَي النِّيَّة وَعبارَة الْمِنْهَاج كالمحرر كَمَال التَّعْيِين  (نَوَيْت صَوْم غَد عَن أَدَاء فرض رَمَضَان هَذِه السّنة لله تَعَالَى)  إِيمَانًا واحتسابا

Dan BENTUK NIYAT yang paling sempurna (dalam puasa) – yaitu niat yang disebutkan dalam kitab al-Minhaj seperti dalam  kitab al-Muharrar – adalah dengan kesempurnaan dalam menentukan (niat), yaitu dengan mengucapkan:
  (نَوَيْت صَوْم غَد عَن أَدَاء فرض رَمَضَان هَذِه السّنة لله تَعَالَى)
"Saya berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa Ramadan tahun ini karena Allah Ta'ala,"
 dengan penuh keimanan dan mengharap pahala."

 بِإِضَافَة رَمَضَان إِلَى مَا بعْدهَا,  لتتميز عَن أضدادها.  
 
 Dengan menyandarkan kata Ramadan ke kalimat setelahnya, sehingga dapat dibedakan dari puasa lainnya yang bertentangan dengan romadlon .
 
ويغني عَن ذكر الْأَدَاء أَن يَقُول عَن هَذَا الرمضان,

Dan tidak perlu menyebut kata ada’ (الأداء). Jika seseorang mengatakan bahwa ia berpuasa untuk "Ramadan ini" (رمضان هذا ), maka sudah cukup jelas bahwa puasanya dilakukan dalam waktunya,

👉Dengan kata lain, jika puasa dilakukan dalam bulan Ramadan, itu secara otomatis dianggap ada’, sehingga penyebutan istilah ada’ tidak diperlukan.

واحتيج لذكره مَعَ هَذِه السّنة  وإن اتحد محترزهما.

Namun, jika seseorang menyebut "tahun ini" (هذه السنة) dalam konteks puasa, maka tetap perlu disebutkan apakah itu ada’  ( عن اداء) atau qadha’.( عن قضاء)
dan menyatunya اداء dan هذه السنة

👉Misalnya, jika seseorang mengatakan: "Saya berpuasa untuk tahun ini," bisa jadi maksudnya puasa Ramadan atau puasa qadha’ dari tahun lalu. Oleh karena itu, perlu dijelaskan lebih lanjut.

 إذ فرض غير هذه السنة لا يكون إلا قضاء"

Jika yang dimaksud adalah puasa yang diwajibkan pada selain tahun ini (misalnya puasa Ramadan dari tahun  lalu), maka puasa itu pasti qadha’.

👉Karena puasa Ramadan hanya bisa disebut ada’ jika dilakukan pada Ramadan yang sedang berlangsung. Jika dilakukan di luar Ramadan tahun itu, otomatis masuk kategori qadha’.

"لأن لفظ الأداء يطلق ويراد به الفعل كذا قاله الرمليّ"

Kata ada’ (الأداء) dalam bahasa Arab dapat digunakan dalam arti umum sebagai "pelaksanaan" suatu ibadah.
Namun, dalam istilah fikih, ada’ berarti pelaksanaan dalam waktunya yang ditentukan.
Pendapat ini dikutip dari Imam Al-Ramli, seorang ulama fikih mazhab Syafi'i.

👉Jika seseorang mengatakan "Saya berpuasa Ramadan ini," maka otomatis dipahami sebagai ada’.

👉Jika seseorang menyebut "tahun ini," maka perlu diperjelas apakah itu ada’ atau qadha’.

👉Jika puasa yang dimaksud adalah untuk tahun sebelumnya, maka pasti termasuk qadha’.

👉Kata ada’ dalam fikih berarti pelaksanaan ibadah dalam waktunya, meskipun dalam bahasa umum bisa berarti sekadar "melakukan sesuatu."

وَالثَّانِي الْإِمْسَاك عَن جَمِيع المفطرات الْأَرْبَعَة الْمَذْكُورَة فِي قَوْله (وَيفْطر عَامِدًا عَالم مُخْتَار)

🔷RUKUN PUASA YANG KEDUA
 adalah MENAHAN DIRI dari semua hal yang membatalkan puasa yang empat, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ:
"Dan batal puasanya orang yang makan atau minum dengan sengaja, dalam keadaan mengetahui (hukumnya), dan dalam kondisi memilih (tanpa paksaan)."

 فَخرج بالعمد النسْيَان .  فَلَو أكل أَو شرب نَاسِيا للصَّوْم لَا يضرّهُ لقَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من نسي وَهُوَ صَائِم فَأكل أَو شرب فليتم صَوْمه فَإِنَّمَا أطْعمهُ الله وسقاه .

Maka dikecualikan dari sengaja (عمدًا) adalah lupa (النسيان). Jika seseorang makan atau minum karena lupa sedang berpuasa, maka itu tidak membahayakan puasanya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
"Barang siapa yang lupa dalam keadaan berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum."

وبالعلم بِالتَّحْرِيمِ الْجَهْل بِهِ إِذا كَانَ جَاهِلا مَعْذُورًا فَلَا يفْطر.

Dikecualikan pula dari syarat mengetahui hukum (العلم بالتحريم) adalah orang yang tidak tahu (الجهل به), selama kebodohannya dalam hal ini dapat dimaafkan, maka puasanya tidak batal.

وبالاختيار الْإِكْرَاه فَلَو أكره حَتَّى أكل أَو شرب لَا يبطل صَوْمه

Begitu pula dikecualikan dari syarat "dengan pilihan sendiri" (الاختيار) adalah keadaan terpaksa (الإكراه). Jika seseorang dipaksa untuk makan atau minum, maka puasanya tidak batal.

(بجماع) أَي إِدْخَال حَشَفَة أَو قدرهَا من مقطوعها فرجا قبلا أَو دبرا من آدَمِيّ أَو غَيره أنزل أَو لَا عَامِدًا مُخْتَارًا عَالما بِالتَّحْرِيمِ .

YANG MEMBATALKAN PUASA diantara:
(Dengan jima')—yaitu memasukkan kepala zakar (حشفة) atau seukuran itu jika terpotong, ke dalam kemaluan depan (qubul) atau belakang (dubur), baik dari manusia atau selainnya, baik mengeluarkan mani atau tidak, dengan sengaja, dalam keadaan memilih (tanpa paksaan), dan mengetahui keharamannya.

فَلَا يفْطر بِالْوَطْءِ نَاسِيا للصَّوْم وَإِن تكَرر وَلَا بِالْإِكْرَاهِ مَا لم يكن زنا لِأَنَّهُ لَا يُبَاح بِالْإِكْرَاهِ فيفطر بِهِ .

Maka, tidak batal puasanya jika berjima' karena lupa sedang berpuasa, meskipun berulang kali, dan juga tidak batal jika dilakukan karena dipaksa, kecuali jika itu merupakan perzinaan, karena zina tidak menjadi halal meskipun dalam keadaan terpaksa, sehingga puasanya batal karenanya.

وَاعْتمد الْعَلامَة العزيزي الْإِطْلَاق وَقَالَ لَا يفْطر حَيْثُ أكره على الزِّنَا لشُبْهَة الْإِكْرَاه وَالْحُرْمَة من حَيْثُ نفس الْوَطْء.

Al-‘Allamah al-‘Azizi berpegang pada pendapat yang membiarkan hukum ini secara mutlak, dan beliau berkata bahwa puasa tidak batal jika seseorang dipaksa untuk berzina, karena ada syubhat (ketidakjelasan) dalam paksaan dan karena keharaman zina berasal dari hakikat perbuatannya sendiri.

 وَكَذَا لَو وطىء جَاهِلا بِأَن الْوَطْء مُبْطل للصَّوْم وَكَانَ مَعْذُورًا كَمَا مر .

Begitu juga, jika seseorang melakukan jima' karena tidak tahu bahwa hal itu membatalkan puasa, dan ketidaktahuannya dapat dimaafkan, maka puasanya tidak batal, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وَلَو أَدخل شخص ذكره فِي دبر نَفسه فَإِنَّهُ يفْطر وَيحد وَيفْسد حجه وَيجب عَلَيْهِ الْغسْل وَالْكَفَّارَة فِي الصَّوْم,  كَمَا نقل عَن البُلْقِينِيّ

Jika seseorang memasukkan zakarnya sendiri ke dalam duburnya sendiri, maka puasanya batal, ia dikenakan hukuman hadd, hajinya menjadi rusak, serta ia wajib mandi junub dan membayar kafarat dalam puasanya. Demikianlah yang dinukil dari Imam al-Bulqini.

(وَاسْتِمْنَاء) أَي طَلَب خُرُوج الْمَنِيّ"

(Istimna’) yaitu mencari keluarnya mani.

"وَهُوَ مُبْطِلٌ لِلصَّوْمِ مُطْلَقًا سَوَاء كَانَ بِيَدِهِ أَوْ بِيَدِ حَلِيلَتِهِ أَوْ غَيْرِهِمَا بِحَائِلٍ أَوْ لَا بِشَهْوَةٍ أَوْ لَا"

 Dan hal itu membatalkan puasa secara mutlak, baik dilakukan dengan tangannya sendiri, tangan istrinya, atau tangan orang lain, baik dengan penghalang (seperti kain) atau tanpa penghalang, baik dengan syahwat atau tidak.

"أَمَّا إِذَا كَانَ الْإِنْزَالُ مِنْ غَيْرِ طَلَبِ خُرُوجِ الْمَنِيِّ"

 Adapun jika keluarnya mani terjadi tanpa adanya usaha untuk mengeluarkannya,

"فَتَارَةً يَكُونُ بِمُبَاشَرَةِ مَا تَشْتَهِيهِ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ أَوْ لَا"
maka terkadang terjadi karena bersentuhan dengan sesuatu yang diinginkan oleh naluri yang sehat, atau tidak.

"فَإِنْ كَانَ لَا تَشْتَهِيهِ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ كَالْأَمْرَدِ الْجَمِيلِ وَالْعُضْوِ الْمُبَانِ فَلَا فِطْرَ بِالْإِنْزَالِ مُطْلَقًا سَوَاء كَانَ بِشَهْوَةٍ أَوْ لَا بِحَائِلٍ أَوْ لَا"

 Jika itu sesuatu yang tidak diinginkan oleh naluri yang sehat, seperti anak muda tampan (dalam konteks yang tidak wajar) atau anggota tubuh yang terpisah (seperti tangan yang terpotong), maka keluarnya mani tidak membatalkan puasa secara mutlak, baik dengan syahwat atau tidak, baik dengan penghalang atau tidak.

"وَإِنْ كَانَ تَشْتَهِيهِ الطِّبَاعُ السَّلِيمَةُ فَتَارَةً يَكُونُ مِنْ مَحَارِمِهِ وَتَارَةً لَا"

 Namun, jika itu adalah sesuatu yang memang diinginkan oleh naluri yang sehat, maka terkadang itu terjadi dengan seseorang yang termasuk mahramnya, dan terkadang tidak.

"فَإِنْ كَانَ مِنَ الْمَحَارِمِ وَكَانَ بِشَهْوَةٍ وَبِدُونِ حَائِلٍ أَفْطَرَ وَإِلَّا فَلَا"

 Jika terjadi dengan mahramnya, serta dengan syahwat dan tanpa penghalang, maka puasanya batal. Jika tidak demikian, maka tidak batal.

"وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مِنَ الْمَحَارِمِ فَإِنْ كَانَ بِدُونِ حَائِلٍ أَفْطَرَ سَوَاء كَانَ بِشَهْوَةٍ أَوْ لَا"

 Jika terjadi dengan seseorang yang bukan mahramnya, maka jika tanpa penghalang, puasanya batal, baik dengan syahwat atau tidak.

"أَمَّا وَإِنْ كَانَ بِحَائِلٍ وَلَوْ رَقِيقًا جِدًّا فَلَا إِفْطَارَ وَلَوْ بِشَهْوَةٍ"

Namun, jika ada penghalang, meskipun sangat tipis, maka puasanya tidak batal, sekalipun dengan syahwat.

Kesimpulan:
Istimna' (masturbasi) secara mutlak membatalkan puasa, baik dengan tangan sendiri, pasangan, atau orang lain, baik dengan atau tanpa penghalang, serta baik dengan syahwat atau tidak.
Jika mani keluar tanpa usaha, hukumnya berbeda-beda tergantung penyebabnya:
👉Jika tidak dari sesuatu yang diinginkan oleh naluri yang sehat, maka tidak membatalkan puasa.
👉Jika berasal dari sesuatu yang secara naluri menarik, maka hukumnya berbeda tergantung pada hubungan dan adanya penghalang.
👉Jika terjadi dengan mahram dan tanpa penghalang serta dengan syahwat, maka puasanya batal.
👉Jika dengan non-mahram dan tanpa penghalang, maka puasanya batal.
👉Jika ada penghalang (meskipun tipis), maka puasanya tetap sah, meskipun dengan syahwat.

"لَا بِضَمّ بِحَائِلٍ"

Tidak (batal puasa) dengan sekadar berpelukan jika ada penghalang.

"وَالْمُرَادُ بِالشَّهْوَةِ أَنْ يَقْصِدَ مُجَرَّدَ اللَّذَّةِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَقْصِدَ خُرُوجَ الْمَنِيِّ، وَإِلَّا كَانَ اسْتِمْنَاءً، وَهُوَ مُفْطِرٌ مُطْلَقًا كَمَا مَرَّ"

 Yang dimaksud dengan syahwat adalah seseorang hanya berniat merasakan kenikmatan tanpa bermaksud mengeluarkan mani. Jika dia berniat mengeluarkan mani, maka itu dianggap sebagai istimna’ (masturbasi), yang membatalkan puasa secara mutlak, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

"وَخَرَجَ بِالْمُبَاشَرَةِ النَّظَرُ وَالْفِكْرُ"

 Dikecualikan dari kategori mubasyarah (kontak fisik) adalah nadzar (melihat) dan fikr (berpikir).

"فَلَوْ نَظَرَ أَوْ تَفَكَّرَ فَأَمْنَى فَلَا فِطْرَ مَا لَمْ يَكُنْ مِنْ عَادَتِهِ الْإِنْزَالُ بِذَلِكَ، وَإِلَّا أَفْطَرَ"

Maka, jika seseorang melihat sesuatu atau berpikir hingga keluar mani, puasanya tidak batal selama bukan kebiasaannya untuk mengeluarkan mani dengan cara tersebut. Namun, jika itu memang kebiasaannya, maka puasanya batal.

"وَلَوْ أَحَسَّ بِانْتِقَالِ الْمَنِيِّ وَتَهَيُّئِهِ لِلْخُرُوجِ بِسَبَبِ النَّظَرِ فَاسْتَدَامَهُ حَتَّى أَنْزَلَ، أَفْطَرَ قَطْعًا"

 Jika seseorang merasakan bahwa mani mulai bergerak dan bersiap untuk keluar karena pandangan, lalu ia terus-menerus melihat hingga akhirnya keluar mani, maka puasanya batal dengan pasti.

Kesimpulan:
👉Pelukan dengan penghalang tidak membatalkan puasa.
👉Syahwat yang hanya untuk kenikmatan tanpa niat mengeluarkan mani tidak membatalkan puasa. Namun, jika berniat mengeluarkan mani, maka itu dianggap istimna’ (masturbasi), yang membatalkan puasa.
👉Melihat atau berpikir hingga keluar mani tidak membatalkan puasa, kecuali jika itu sudah menjadi kebiasaan.
👉Jika seseorang merasakan mani akan keluar karena melihat sesuatu, lalu ia terus melihat hingga benar-benar keluar, maka puasanya batal dengan pasti.

والله اعلم بالصواب

TERJEMAH KITAB NIHAYATUZZAEN HAL 187 BAB PUASA PART 4

 TERJEMAH KITAB NIHAYATUZZAEN
HAL 187

BAB PUASA
PART 4

كتاب نهاية الزين
[نووي الجاوي]

فهرس الكتاب  باب الصوم
 
 
وَلَا يضر نُزُوله فِي النّوم وَيحرم نَحْو اللَّمْس كالقبلة إِن حرك شَهْوَته خوف الْإِنْزَال وَإِلَّا فَتَركه أولى
وَمن خصوصياته صلى الله عَلَيْهِ وَسلم جَوَاز الْقبْلَة فِي الصَّوْم الْمَفْرُوض مَعَ قُوَّة شَهْوَته لِأَنَّهُ كَانَ أملك النَّاس لإربه


 (واستقاءة) أَي طلب قيء عمدا مُخْتَارًا عَالما بِالتَّحْرِيمِ كَمَا مر وَإِن تَيَقّن أَنه لم يرجع شَيْء إِلَى جَوْفه كَأَن تقايأ مُنَكسًا وَمن الْقَيْء مَا لَو دخلت ذُبَابَة جَوْفه فأخرجها وكالقيء التجشي فَإِن تَعَمّده وَخرج شَيْء من معدته إِلَى حد الظَّاهِر أفطر وَلَو كَانَ نَاسِيا للصَّوْم أَو مكْرها كَمَا لَو غَلبه الْقَيْء أَو جَاهِلا مَعْذُورًا فَلَا فطر وَيسْتَثْنى من الْقَيْء مَا لَو اقتلع نخامة من الْبَاطِن ورماها سَوَاء قلعهَا من دماغه أَو من بَاطِنه لِأَن الْحَاجة إِلَى ذَلِك تَتَكَرَّر وَإِلَى ذَلِك أَشَارَ بقوله


(لَا بقلع نخامة) وَلَو نزلت من دماغه أَو خرجت من جَوْفه ووصلت إِلَى حد الظَّاهِر وَجب قلعهَا ومجها ويعفى عَمَّا أَصَابَته لَو كَانَت نَجِسَة فَإِن تَركهَا مَعَ الْقُدْرَة على ذَلِك فَرَجَعت إِلَى حد الْبَاطِن أفطر لتَقْصِيره وَلَو كَانَ فِي فرض صَلَاة وَلم يقدر على مجها إِلَّا بِظُهُور حرفين فَأكْثر لم تبطل صلَاته بل يتَعَيَّن ذَلِك مُرَاعَاة لمصلحتها كالتنحنح لتعذر الْقِرَاءَة الْوَاجِبَة وحد الظَّاهِر هُوَ مخرج الْخَاء الْمُعْجَمَة عِنْد الرَّافِعِيّ والحاء الْمُهْملَة عِنْد النَّوَوِيّ وَهُوَ الْمُعْتَمد فَإِن لم تصل إِلَى حد الظَّاهِر الْمَذْكُور بِأَن كَانَت دَاخِلا عَمَّا ذكر أَو حصلت فِي حد الظَّاهِر وَلم يقدر على قلعهَا ومجها لم يضر


وَلَو أصبح وَفِي فَمه خيط مُتَّصِل بجوفه كَأَن أكل بِاللَّيْلِ كنافة وَبَقِي مِنْهَا خيط بفمه تعَارض عَلَيْهِ حِينَئِذٍ الصَّوْم وَالصَّلَاة لبُطْلَان الصَّوْم بابتلاعه لِأَنَّهُ أكل أَو نَزعه لِأَنَّهُ استقاء ولبطلان الصَّلَاة بِبَقَائِهِ لاتصاله بِنَجَاسَة الْبَاطِن فطريق خلاصه أَن يَنْزعهُ مِنْهُ غَيره وَهُوَ غافل فَإِن لم يكن غافلا وَتمكن من دفع النازع أفطر إِذْ النزع مُوَافق لغَرَض النَّفس فَهُوَ حِينَئِذٍ مَنْسُوب إِلَيْهِ

قَالَ الزَّرْكَشِيّ وَقد لَا يطلع عَلَيْهِ عَارِف بِهَذَا الطَّرِيق وَيُرِيد الْخَلَاص فطريقه أَن يجْبرهُ الْحَاكِم على نَزعه وَلَا يفْطر لِأَنَّهُ كالمكره وَحَيْثُ لم يتَّفق لَهُ شَيْء من ذَلِك وَجب عَلَيْهِ نَزعه أَو ابتلاعه مُحَافظَة على الصَّلَاة لِأَن حكمهَا أغْلظ لقتل تاركها
وَقَالَ بَعضهم يتَعَيَّن عَلَيْهِ بلعه فِي هَذِه الْحَالة وَلَا يُخرجهُ لِأَنَّهُ ينجس فَمه

(وَدخُول عين) من أَعْيَان الدُّنْيَا وَإِن قلت كسمسمة أَو لم تُؤْكَل كحصاة (جوفا) أَي يفْطر صَائِم بوصول عين من تِلْكَ إِلَى مُطلق الْجوف من منفذ مَفْتُوح مَعَ الْعمد وَالِاخْتِيَار وَالْعلم بِالتَّحْرِيمِ وَمن الْعين الحقنة وَمِنْهَا الدُّخان الْمَعْرُوف بِخِلَاف دُخان البخور لِأَن شَأْنه الْقلَّة وَأما أَعْيَان الْجنَّة فَلَا تفطر وَالْمرَاد بِمُطلق الْجوف كل مَا يُسمى جوفا وَإِن لم يكن فِيهِ قُوَّة إِحَالَة الْغذَاء والدواء كحلق وباطن أذن وإحليل ومثانة فَلَو أَدخل عودا فِي أُذُنه أَو إحليله فوصل إِلَى الْبَاطِن أفطر وَيَنْبَغِي الِاحْتِرَاز حَالَة الِاسْتِنْجَاء لِأَنَّهُ مَتى أَدخل من أُصْبُعه أدنى شَيْء فِي دبره أفطر وَكَذَا لَو فعل بِهِ غَيره ذَلِك بِاخْتِيَارِهِ مَا لم يتَوَقَّف خُرُوج الْخَارِج على إِدْخَال أُصْبُعه فِي دبره وَإِلَّا أدخلهُ وَلَا فطر

وَضَابِط دُخُول الْمُفطر أَن يصل الدَّاخِل إِلَى مَا لَا يجب غسله فِي الِاسْتِنْجَاء بِخِلَاف مَا يجب غسله فِيهِ فَلَا يفْطر إِذا أَدخل أُصْبُعه ليغسل
-----------------------------------
TERJEMAH KITAB NIHAYATUZZAEN
HAL 187

BAB PUASA
PART 4



YANG MEMBATALKAN PUASA

وَلَا يضر نُزُوله فِي النّوم.

Dan tidak membatalkan (puasa) jika keluarnya sperma saat tidur (mimpi basah).

 وَيحرم نَحْو اللَّمْس كالقبلة إِن حرك شَهْوَته خوف الْإِنْزَال وَإِلَّا فَتَركه أولى.

Yang diharamkan melakukan hal-hal seperti menyentuh, adalah mencium, dan sejenisnya jika hal tersebut membangkitkan syahwat serta dikhawatirkan menyebabkan keluarnya mani.
Jika tidak demikian (dikhawatirkan menyebabkan keluarnya mani. ) , maka meninggalkannya lebih utama.

وَمن خصوصياته صلى الله عَلَيْهِ وَسلم جَوَاز الْقبْلَة فِي الصَّوْم الْمَفْرُوض مَعَ قُوَّة شَهْوَته لِأَنَّهُ كَانَ أملك النَّاس لإربه

Di antara keistimewaan Nabi ﷺ adalah kebolehan mencium (istri) saat puasa wajib, meskipun beliau memiliki syahwat yang kuat, karena beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan dirinya.

 (واستقاءة) أَي طلب قيء عمدا مُخْتَارًا عَالما بِالتَّحْرِيمِ كَمَا مر

YANG MEMBATALKAN PUASA
"وَاسْتِقَاءَةُ"
 berarti meminta atau berusaha untuk muntah dengan sengaja, dalam keadaan sadar, dan mengetahui keharamannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

 وَإِن تَيَقّن أَنه لم يرجع شَيْء إِلَى جَوْفه كَأَن تقايأ مُنَكسًا
Meskipun  seseorang yakin bahwa tidak ada sesuatu pun yang kembali masuk ke dalam perutnya—misalnya, jika ia muntah dalam keadaan menunduk—kalau disengaja maka puasanya tidak sah.

 وَمن الْقَيْء مَا لَو دخلت ذُبَابَة جَوْفه فأخرجها,  وكالقيء التجشي فَإِن تَعَمّده وَخرج شَيْء من معدته
إِلَى حد الظَّاهِر أفطر.

Termasuk dalam kategori muntah adalah jika seekor lalat masuk ke dalam perutnya lalu ia mengeluarkannya. Begitu pula dengan sendawa yang menyebabkan keluarnya sesuatu dari perut.
Jika seseorang sengaja bersendawa hingga sesuatu keluar dari perutnya sampai ke batas luar (mulut), maka puasanya batal.

 وَلَو كَانَ نَاسِيا للصَّوْم أَو مكْرها كَمَا لَو غَلبه الْقَيْء أَو جَاهِلا مَعْذُورًا فَلَا فطر .

Namun, jika hal itu terjadi karena lupa bahwa ia sedang berpuasa, atau karena dipaksa, atau karena muntah yang tidak disengaja, atau karena ketidaktahuan yang dapat dimaafkan, maka puasanya tidak batal.

وَيسْتَثْنى من الْقَيْء مَا لَو اقتلع نخامة من الْبَاطِن ورماها سَوَاء قلعهَا من دماغه أَو من بَاطِنه , لِأَن الْحَاجة إِلَى ذَلِك تَتَكَرَّر .  وَإِلَى ذَلِك أَشَارَ بقوله

Dikecualikan dari kategori muntah adalah jika seseorang mengeluarkan dahak dari dalam tubuhnya, baik dari otaknya maupun dari bagian dalam tubuhnya, lalu membuangnya. Hal ini diperbolehkan karena kebutuhan untuk melakukannya sering terjadi. Hal ini juga disinggung dalam perkataannya berikutnya.

(لَا بقلع نخامة) وَلَو نزلت من دماغه أَو خرجت من جَوْفه ووصلت إِلَى حد الظَّاهِر .
وَجب قلعهَا ومجها.

Tidak termasuk dalam kategori muntah adalah mengeluarkan dahak, bahkan jika dahak tersebut turun dari otak atau keluar dari perut dan mencapai batas luar (mulut).
Dalam kondisi ini, wajib mengeluarkannya dan meludahkannya.

 ويعفى عَمَّا أَصَابَته لَو كَانَت نَجِسَة.

Jika dahak tersebut najis, maka dimaafkan apa yang terkena olehnya.

 فَإِن تَركهَا مَعَ الْقُدْرَة على ذَلِك فَرَجَعت إِلَى حد الْبَاطِن أفطر لتَقْصِيره .

Namun, jika seseorang sengaja membiarkannya padahal ia mampu mengeluarkannya, lalu dahak itu kembali masuk ke dalam tubuhnya, maka puasanya batal karena kelalaiannya.

وَلَو كَانَ فِي فرض صَلَاة وَلم يقدر على مجها إِلَّا بِظُهُور حرفين فَأكْثر لم تبطل صلَاته. بل يتَعَيَّن ذَلِك مُرَاعَاة لمصلحتها كالتنحنح لتعذر الْقِرَاءَة الْوَاجِبَة.

Jika seseorang sedang dalam shalat wajib dan tidak dapat meludahkannya kecuali dengan mengucapkan dua huruf atau lebih, maka shalatnya tetap sah, bahkan mengeluarkannya menjadi keharusan demi menjaga keabsahan shalat, sebagaimana halnya seseorang yang berdeham karena tidak mampu membaca bacaan wajib dalam shalat.

 وحد الظَّاهِر هُوَ مخرج الْخَاء الْمُعْجَمَة عِنْد الرَّافِعِيّ والحاء الْمُهْملَة عِنْد النَّوَوِيّ وَهُوَ الْمُعْتَمد .

Batas luar tenggorokan (zhahir) dalam hal ini menurut Ar-Rafi‘i adalah tempat keluarnya huruf "kha" (خ), sedangkan menurut An-Nawawi adalah tempat keluarnya huruf "ha" (ح), dan pendapat yang dipegang adalah yang kedua.

 فَإِن لم تصل إِلَى حد الظَّاهِر الْمَذْكُور بِأَن كَانَت دَاخِلا عَمَّا ذكر أَو حصلت فِي حد الظَّاهِر وَلم يقدر على قلعهَا ومجها لم يضر

 Jika dahak tidak mencapai batas luar yang disebutkan, yakni masih berada di dalam tubuh, atau jika telah mencapai batas luar tetapi seseorang tidak mampu mengeluarkannya dan meludahkannya, maka hal itu tidak membatalkan puasa.

وَلَو أصبح وَفِي فَمه خيط مُتَّصِل بجوفه كَأَن أكل بِاللَّيْلِ كنافة وَبَقِي مِنْهَا خيط بفمه تعَارض عَلَيْهِ حِينَئِذٍ الصَّوْم وَالصَّلَاة .  لبُطْلَان الصَّوْم بابتلاعه لِأَنَّهُ أكل أَو نَزعه لِأَنَّهُ استقاء.

👉Jika seseorang memasuki waktu subuh dalam keadaan ada seutas benang yang masih tersambung ke dalam perutnya—seperti jika ia makan kunafa pada malam hari dan ada seratnya yang tersisa di mulutnya—maka saat itu terjadi pertentangan antara puasa dan shalat.
Jika ia menelannya, puasanya batal karena dianggap makan.
Jika ia mencabutnya sendiri, puasanya juga batal karena dianggap muntah secara sengaja.

 ولبطلان الصَّلَاة بِبَقَائِهِ لاتصاله بِنَجَاسَة الْبَاطِن فطريق خلاصه أَن يَنْزعهُ مِنْهُ غَيره وَهُوَ غافل.

👉Jika dibiarkan, shalatnya batal karena benang tersebut masih tersambung dengan najis di dalam tubuh.
Cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan meminta orang lain mencabutnya saat ia dalam keadaan lalai (tidak sadar).

 فَإِن لم يكن غافلا وَتمكن من دفع النازع أفطر.  

Jika ia tidak lalai dan mampu mencegah orang lain mencabutnya tetapi tetap membiarkan hal itu terjadi, maka puasanya batal.

 إِذْ النزع مُوَافق لغَرَض النَّفس فَهُوَ حِينَئِذٍ مَنْسُوب إِلَيْهِ

Sebab, pencabutan tersebut sesuai dengan keinginannya, sehingga perbuatan itu dianggap berasal darinya.

قَالَ الزَّرْكَشِيّ وَقد لَا يطلع عَلَيْهِ عَارِف بِهَذَا الطَّرِيق وَيُرِيد الْخَلَاص .  فطريقه أَن يجْبرهُ الْحَاكِم على نَزعه وَلَا يفْطر لِأَنَّهُ كالمكره .

Al-Zarkashi berkata: Terkadang seseorang tidak mengetahui solusi ini (meminta orang lain mencabutnya) dan ingin melepaskan diri dari masalah tersebut. Maka caranya adalah hakim memaksanya untuk mencabutnya, dan dalam hal ini puasanya tidak batal karena ia dianggap seperti orang yang dipaksa.

وَحَيْثُ لم يتَّفق لَهُ شَيْء من ذَلِك وَجب عَلَيْهِ نَزعه أَو ابتلاعه مُحَافظَة على الصَّلَاة لِأَن حكمهَا أغْلظ لقتل تاركها.

Namun, jika tidak ada solusi seperti itu yang tersedia, maka ia wajib mencabut atau menelannya demi menjaga keabsahan shalat, karena hukum shalat lebih berat, mengingat orang yang meninggalkannya bisa terkena hukuman mati.

وَقَالَ بَعضهم يتَعَيَّن عَلَيْهِ بلعه فِي هَذِه الْحَالة وَلَا يُخرجهُ لِأَنَّهُ ينجس فَمه

Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam keadaan seperti ini, ia wajib menelannya dan tidak mengeluarkannya, karena jika dikeluarkan, mulutnya akan menjadi najis.

(وَدخُول عين) من أَعْيَان الدُّنْيَا وَإِن قلت كسمسمة أَو لم تُؤْكَل كحصاة .

🔶🔷YANG MEMBATALKAN PUASA
Adalah  Masuknya benda dari benda-benda duniawi—meskipun sedikit, seperti biji wijen, atau sesuatu yang tidak dapat dimakan, seperti kerikil

(جوفا) أَي يفْطر صَائِم بوصول عين من تِلْكَ إِلَى مُطلق الْجوف من منفذ مَفْتُوح مَعَ الْعمد وَالِاخْتِيَار وَالْعلم بِالتَّحْرِيمِ.

—ke dalam tubuh (jauf) akan membatalkan puasa, asalkan benda tersebut masuk melalui lubang yang terbuka, dilakukan dengan sengaja, dalam keadaan sadar, dan mengetahui keharamannya.

 وَمن الْعين الحقنة وَمِنْهَا الدُّخان الْمَعْرُوف بِخِلَاف دُخان البخور لِأَن شَأْنه الْقلَّة .  وَأما أَعْيَان الْجنَّة فَلَا تفطر .
👉Termasuk dalam kategori benda ini adalah suntikan, serta asap yang dikenal (seperti rokok). Berbeda dengan asap dupa (bukhur), karena biasanya jumlahnya sedikit.
Adapun benda-benda dari surga, maka tidak membatalkan puasa.

وَالْمرَاد بِمُطلق الْجوف كل مَا يُسمى جوفا وَإِن لم يكن فِيهِ قُوَّة إِحَالَة الْغذَاء والدواء كحلق وباطن أذن وإحليل ومثانة .

👉Yang dimaksud dengan "tubuh bagian dalam" (jauf) adalah setiap bagian yang disebut "dalam," meskipun tidak memiliki fungsi pencernaan makanan atau obat, seperti tenggorokan, bagian dalam telinga, saluran kemih (uretra), dan kandung kemih.

فَلَو أَدخل عودا فِي أُذُنه أَو إحليله فوصل إِلَى الْبَاطِن أفطر .
👉Oleh karena itu, jika seseorang memasukkan kayu ke dalam telinganya atau ke dalam uretranya hingga mencapai bagian dalam, maka puasanya batal.

وَيَنْبَغِي الِاحْتِرَاز حَالَة الِاسْتِنْجَاء لِأَنَّهُ مَتى أَدخل من أُصْبُعه أدنى شَيْء فِي دبره أفطر.

👉Saat bersuci (istinja), seseorang harus berhati-hati, karena jika ia memasukkan ujung jarinya sedikit saja ke dalam duburnya, puasanya batal.

 وَكَذَا لَو فعل بِهِ غَيرُه ذَلِك بِاخْتِيَارِهِ .

👉Demikian pula, jika orang lain melakukan itu kepadanya dengan persetujuannya, maka puasanya batal.

مَا لم يتَوَقَّف خُرُوج الْخَارِج على إِدْخَال أُصْبُعه فِي دبره وَإِلَّا أدخلهُ وَلَا فطر

Namun, jika mengeluarkan sesuatu dari dubur hanya bisa dilakukan dengan memasukkan jari, maka ia boleh melakukannya tanpa membatalkan puasanya.

وَضَابِط دُخُول الْمُفطر أَن يصل الدَّاخِل إِلَى مَا لَا يجب غسله فِي الِاسْتِنْجَاء.  

👉📌Batasan masuknya sesuatu yang membatalkan puasa adalah ketika benda yang masuk mencapai bagian dalam tubuh yang tidak wajib dicuci saat istinja (bersuci setelah buang air).

بِخِلَاف مَا يجب غسله فِيهِ فَلَا يفْطر إِذا أَدخل أُصْبُعه ليغسل الطيات فيه.

🔶📌Sebaliknya, jika benda yang masuk hanya mencapai bagian yang wajib dicuci dalam istinja—seperti ketika seseorang memasukkan jarinya untuk membersihkan lipatan-lipatan dalam dubur—maka hal itu tidak membatalkan puasa.

والله اعلم بالصواب

BAB PEMBATAL-PEMBATAL PUASA

 BAB PEMBATAL-PEMBATAL PUASA

والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء: ما وصل عمدا إلى الجوف أو الرأس والحقنة في أحد السبيلين والقيء عمدا والوطء عمدا في الفرج والإنزال عن مباشرة والحيض والنفاس والجنون والإغماء كل اليوم والردة.
[أبو شجاع، متن أبي شجاع المسمى الغاية والتقريب، صفحة ١٩]

Hal-hal yang membatalkan puasa seseorang ada 10: (1) Masuknya sesuatu ke bagian dalam tubuh atau ke bagian dalam kepala. (2) Memasukkan obat ke dua jalan (qubul & dubur). (3) Muntah sengaja. (4) Menjimak farji secara sengaja. (5) Keluar mani sebab bersentuhan kulit. (6) Haid. (7) Nifas. (8) Gila. (9) Pingsan sehari penuh. (10) Murtad.

Pengumuman Peserta Lolos Kurasi "Kelas Menulis Travel Writing Angkatan 5"

 

 Assalamu'alaikum
Selamat pagi

Berikut kami sampaikan link Pengumuman Peserta Lolos Kurasi "Kelas Menulis Travel Writing Angkatan 5"

https://www.sippublishing.co.id/pengumuman-naskah-lolos-kurasi-kelas-travel-writing-angkatan-5/

Pengumuman Naskah Lolos Kurasi Kelas Travel Writing Angkatan 5

Peserta Lolos Kurasi Travel Writing Angkatan 5

  1. Muhammad Arief Budiman – Mengintip Pesona Jiufen dan Keindahan Air Terjun Golden di Tahun Baru Imlek
  2. Ulin N.S – Hari-Hari di Tanah Arab
  3. Hasanuddin – Jalan Suci Nan Terjal Lombok-Garut
  4. Desy Febria – Menapaki Rimbunan Ilalang Berkabut
  5. Nanda Gita Rakhmawati – Semalam di Kota Solo
  6. Ratih Prasedyawati, S,Pd – Arunika Surganya Wisata Kuliner di Kuningan
  7. Muhamad Trio Hamdani, S.Pd. – Dieng
  8. Miss Ilmi – Bapak Misterius di Jalanan Bromo
  9. Muhamad Memo – Menjelajah Jiwa Di Propinsi Jambi
  10. Chep Ahmad – CLBK Di Haramain Ekspress
  11. Pak Cubit – Mengunjungi Tangkis Laut Misterius
  12. Dini Masitah – Guillotine, Tidur Siang dan Taksi di Hanoi
  13. Idayantie – Segelas Susu Cokelat di Doesoen Kakao, Banyuwangi
  14. Inisial H – Nagari di Bawah Tebing
  15. Muhajir Syam – Somber Raja
  16. Etihad Rea Bintang Prakoso – Jejak di Pasir Merah
  17. Moony Tan – Petualangan di Kota Zamrud
  18. Linda Safarlina – Bromo I Will Be Back With My Bestie
  19. Ikhdam Nur Rz – Jejak Panorama dan Budaya Pulau Dewata
  20. Durori – Travel Writing Buat Zilla
  21. Dee – Sejumput Kenangan di Kota Dodol
  22. Indah Wibowo – Konigssee di Ujung Tenggara Bayern, Jerman
  23. Maryati – Kenangan di Balik Langit Mendung
  24. Agnus Castus – Bukan Bulan Madu
  25. Rita Audriyanti – Deru Campur Debu Menuju Masjid Baitur Rouf
  26. Murniati – Prambanan dalam Kenangan
  27. Hurun’in Z K U – Melihatmu Dari Kejauhan
  28. Novi Mega Lestari – Toraja: Menyusuri Jejak Hidup, Mati, Dan Keabadian
  29. Elsi Setiani – Bekas Kaki di Kampung Ujung (Labuan Bajo)
  30. Abie Ahmad – Menembus Kabut di Situ Gunung
  31. Tri Pujiastuti, S.S. – Sarmi Kota Ombak, Mengukir Kenangan Menyimpan Cerita
  32. Jubaedah – Surprise Balikpapan
  33. Intan Daswan – Harmonisasi Kopi Arabica dan Black Lava
  34. Rost Ochi – Kuliner Dunia di Negeri Fatamorgana
  35. Sutiono, Sp – Bhutan, Negara Dataran Tinggi di Hamparan Pegunungan Himalaya
  36. Yakub Kusnadi – Mencari Cinta di Alharamain, Bertemu di Seikat Rambutan Purwakarta
  37. Elva Maulidia – Pesona Negeri Petro Dollar Brunei Darussalam
  38. Siti Hafidzoh – Luruh Di Pelukan Curug Hordeng
  39. Eska Lavina – Sejumput Kisah Dari Pasar Among Tani
  40. Suci Wulandari – Jogja, Kan Kurindu Sapamu Kala Itu
  41. Fendi Hermawan, S. Pd – New Celosia Mengesankan
  42. Reni Diyah Hastiti – Merapi Tak Pernah Ingkar Janji
  43. Tek Tia – Sehari Mencari Touris
  44. Novita Dwi Audia Mentari – Jejak Waktu di Dalam Loka
  45. Nur Isnan Maulana – Senja yang Berbisik di Banda Neira
  46. Indri Hapsari – Sengaja Terdampar di Pulau Molana
  47. Aura Zhafira Al Khansa – Liburan ke Puncak Gunung Perahu
  48. Fairuz Baiti Azaria – Foto Kenangan Terakhir di Tempat Wisata
  49. Idhola – Hadiah Kenikmatan Sang Pencipta di Puncak Marapi
  50. Meilani, S.Pd., M.Pd – Oh Sail Morotaiku Mengharu Biru di Laut Indonesia
  51. Rose Merry – Mandre Ki
  52. Yanti M Tinggal – Bumi Laskar Pelangi
  53. Aisyah Khoerun Nisa – Foto-foto Wisata Berbicara
  54. Milfa Yunita – Asyiknya Pergi ke Bukit Tinggi
  55. Romawi4@nh – Jalan Tak Berujung
  56. Qothrun Nada – Tamu Terbaik, Kapan Kau Berkunjung Kembali?
  57. Narmi – Serpihan Surga Air Terjun Tumpak Sewu
  58. Mansiz Muhammad Kasim Ali – Kenangan di Kota Dua Huruf
  59. Nur Syamsiah – Lembaran Cerita di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram
  60. Endri Kris – Mereguk Damai di Wlingi
  61. Hesti Andriani – Gang Soka Kotagede, Wajah Berwarna Kampung Tua
  62. Wina – Serunya Berwisata di Jendela Langit
  63. Pipit Pitriani – Senja di Penghujung Sunrise Pantai Barat Pangandaran
  64. Indah Kurniati – Warna Patah Hati di Masjid Cheng Ho Sriwijaya
  65. Annisa Sofia Wardah – Anak Beo
  66. Anggun Cahyani – Serunya Jalur Labuan Bajo-Wae Rebo
  67. Widiawati W. A. – Bermotor ke Pengalengan
  68. Okin Lazuardi – Hello Vietnam, Hello Halong Bay
  69. Dian Permata Sari – Jakarta I’m Coming
  70. Supriyono, S.Pd. – Jejak Rindu di Puncak Gunung Sindoro
  71. Raynhard Kadmaer, S.Pd – Honeymoon di Tanah Banti Bumi Massenrempulu
  72. Laily Nihayati – Oase di Jantung Kota Vientiane
  73. Retno Affandi – Sagara View Of Karangbolong Tak Pernah Bohong
  74. Bambang Kariyawan Ys. – Giza, Ada Decak dan Heran di Sini
  75. Yanti Kurniatun – Manikmati Indahnya Posong
  76. Karim Tahir – Mengenang Kemegahan Somba Opu
  77. Selvi Agnesia – Menelusuri Hikmah Di Bumi Para Nabi
  78. Melia Yusita – Waerebo, Kesunyian dan Kesederhanaan yang Menenangkan
  79. Nur Trikurniawaty Cahyadi – Debar Pesona Dragon Plate
  80. Dania Sindy – Secuil Surga
  81. Rakhma Nur Azzahrani – Kendala Dua Bahasa
  82. Kharisma PW – Jejak Rute di Kertas Lusuh
  83. Arif Rahman Hakim – Elegi di Tanah Suci
  84. Ummi Salamah – Hiburan Setelah Perjalanan Panjang
  85. Iin Siswantini – Jatuh Cinta Kembali di Pantai Menganti
  86. Triyani, S. Pd – Mewujudkan Mimpi Ke Pulau Penyu
  87. Krisna Eny – Menapaki Jejak Cinta di Kota Tepian Air
  88. Fathiyatuz – Walau Terlambat, Aku Datang!
  89. Annisa Muqorroturrahmah – Menuju Puncak Gede
  90. Sofiana Indriani – The Stunning Of Tirta Gangga
  91. Cassa – Little Netherland Di Bawah Laut
  92. Amie Rachmi – Yokoso, Negeri Para Samurai!
  93. Normawati – Bulukumba, Jejeran Wisata Bahari
  94. Faridatul Khasanati – Swaloh Hill Resort
  95. Yeni H – Tiga Jam Sebelum Chek In di Travelodge Chinatown Kuala Lumpur
  96. Suhendi – Jejak Warna dan Keheningan Batu caves
  97. Ginanjar Hambali – Musim Durian di Baduy
  98. Naufal Nabilludin – Menapak Di Pura Batu Bolong: Menjadi Tamu Di Rumah Spiritual Orang Lain
  99. Nur Hidayati – Singapore….We’re Coming
  100. Niken Sari – Benteng Van der Wijck
  101. Kak Ian – Mengejar Sunset Pantai Aloha
  102. Randriana – Keheningan Loksado
  103. Harumpuspita – Tanpa Rencana yang Direncanakan
  104. Jung – Serpihan Surga di Kaki Lawu
  105. Restia Bela Pertiwi – Mesjid Raya Padang Punya Cerita.
  106. Jack Alawi – Monday’s Escape Trip to Baduy
  107. Ria Amira – Es Krim 5 Riyal
  108. Namaria – Niagara: Air yang Mengalir, Kenangan yang Tinggal
  109. Muhammad Ridwan – Aku Menyebutnya “Tampan dan Berani”
  110. Eka Herlina – Kuala Lumpur dan Kebaikan Hati Orang Asing
  111. Ayis Osman – Menyatu dengan Alam di Pantai Sukamade
  112. Alifya Budi Karelita – Orang-orang di Negeri Atas
  113. Krisshador – Museum dan Sesuatu di Jogja
  114. Aeni Marseel – Seribu Parit Sejuta Kelapa
  115. Rainhard Frealdo – Izinkan Aku Dua Hari Satu Malam untuk Sukabumi
  116. Salvy Ali – Setengah Hari di Kertasari
  117. Widawati – Pantai Pasir Perawan yang Menawan
  118. Fitlawati – Naik Kereta Api ke Pariaman
  119. Ria Antika, S.S., M.Li. – Poncokusumo: Pulang Ke Surga Kecil di Lereng Semeru
  120. Mawaritsa – Perjalanan Pertama Menuju Kabupaten Paser
  121. , Novidewi – Sekejap Kami di Kota Semarang
  122. Rati Kumari – La Petite Venise, Negeri Dongeng di Timur Prancis
  123. Kia Roe – Jejaki Gunung Kawi, Jalur Ngantang yang Menantang
  124. Denok Sutiyem R – Perjalanan ke Bukit Watu Gede
  125. Witri Rahayu – Perjalanan ke Pulau Tidung

 

Selamat kepada Bapak/Ibu yang naskahnya lolos kurasi. Bagi penulis yang bersedia diterbitkan naskahnya akan dibukukan 1 buku bersama Gol A Gong.

Terima kasih 😊🙏🏻

 

Guru Penuh Cinta